Abstraknya Asa

Angin, lama tak bersua. Masihkah ada seutas senyum untuk gadis yang tak tahu diri ini?
Jangankan seutas senyum, bahuku pun siap disandari air matamu.
Ahaha, tahu saja kalau mataku sudah berlinang.
Menangislah bila memang harus menangis. Asal itu bisa membuatmu menegakkan wajah, memantapkan hati, dan melanjutkan langkah; lagi.
Setelah semua kehancuran yang kuperbuat, masihkah pantas aku menegakkan wajah?
Bukankah berani bermain api dan berani memadamkannya, berarti kamu sudah tahu seberapa pantas dirimu untuk melanjutkan hidup?
Tapi skala kepantasan itu sangat jauh dari..
Aku tahu. Sembunyikan saja ucapan yang hanya akan merendahkan dirimu itu.
Bukan merendah, Angin..
Kalau kau merasa api itu sudah membakarmu dan sekarang kau jadi abu, masih mungkinkah abu itu bermanfaat untuk sesuatu?
Abu bukan hanya akan diterbangkan Angin, tapi juga menjadi sesuatu yang berbahaya dan dibenci manusia.
Kalau kau merasa api itu hanya menghanguskanmu dan kau masih mampu bernapas, masihkah ada harapan untuk melanjutkan hidup?
Ada. Tapi bagaimana aku tahu bagaimana keadaanku sekarang?
Di awal sudah kubilang, kau sudah bermain api tapi kini apinya sudah kau padamkan.
Benarkah? Aku masih punya harapan?
Harapan itu masih ada kalau kau percaya. Bukankah harapan itu abstrak? Dan abstrak tidak bisa menjadi nyata kalau tidak ada sesuatu yang mewujudkannya.

damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Read Previous

Purna

Read Next

Perisai

Facebook Comments

Disqus Comments

damae