3x Sehari

Kadang, untuk menyadari apa makna kasih sayang, kita harus berhenti mendapatinya. Untuk belajar bagaimana perhatian, kita harus dicampakkan diam-diam. Untuk mengerti betapa berharga dikhawatirkan orang, kita harus merasakannya sendiri.

Itulah bagaimana aku tahu, mengapa ibu bertanya kabar 3x sehari. Kabar pagi: sudah bangun, badan sehat, sarapan apa, obatnya jangan lupa, hari ini mau ke mana, sama siapa, naik apa, jam berapa berangkatnya.

Kabar siang: sedang apa, sudah makan siang, obatnya jangan lupa, jangan kelelahan, nanti pulang sama siapa, naik apa, jam berapa, jangan kemaleman.

Kabar malam: sudah pulang, makan apa, obatnya sudah diminum, jangan mandi malam, tadi ngapain aja, lekas ganti baju, bebersih, solat, langsung tidur. Meski sering kali aku bohong, bukannya langsung tidur malah nonton film, nulis, atau baca.

Terdengar membosankan? Sangat. Bayangkan, setiap hari aku harus menjawab pertanyaan yang sama. Tiga kali sehari, 21x seminggu, 84x sebulan. Setahun? Dua tahun? Sampai hari ini hampir genap 7 tahun.

Tapi tahukah, hanya itu yang ibu bisa lakukan untuk menunjukkan betapa ia cinta. Betapa ia selalu memikirkan, mencemaskan, perhatian, rindu. Padaku. Anaknya.

Kawan, jika Kau mendapati lelaki demikian.. Tak usahlah 3x sehari. Cukup sekali saja. Tolong jangan ragukan hatinya.

Sayangnya aku lebih sering mendapati wanita (pada lelakinya). Lebih miris lagi, lelaki justru merasa terusik dengan caranya (menunjukkan cinta). Hingga suatu hari wanita pergi diam-diam, lelaki hanya bisa berkata: seandainya..

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*