3 Buku Selahapan: Bumi, Supernova (Partikel), Sewindu

Maksud hati ingin mereview ketiga buku yang baru saja kulahap. Paling tidak, selevel para penikmat kata edisi Minggu, Jawa Pos Surabaya. Rubrik “Buku”. Tapi apa daya, aku butuh waktu sedikit lebih lama dari sisa watt otak ini jika ingin menyejajari mereka. Ya, anggap saja, ini caping (catatan pinggir) yang harus segera tertuang -jika tak ingin hilang.

Singkatnya, aku baru selesai mengutui novel terbaru Tere Liye, “Bumi”. Ditambah novel lawas -bahkan paling lawas proses kehamilannya diantara episode lain- dari Dee. Supernova: Partikel. Terakhir, Sewindu-nya Tasaro GK.

Bumi, memang sudah kupantengi dan ngebet dibeli begitu launching. Entahlah. Sepertinya magnet Raib -tokoh utama, telah menarikku lebih kuat dari aura buku lain. Novel fantasi bertabur logika ilmu pengetahuan ini sempat membuatku bosan di hampir setengah ketebalan. Tapi selebihnya hingga akhir, aku diaduk-aduk kenyataan yang bahkan tak pernah terbayang dalam 21 tahun pendidikanku.

Masih satu genre dengan Bumi, Sci-fi. Tapi Si Partikel dari serial Supernova yang dikandung 8 tahun dalam laboratorium kreatifnya Dewi Lestari ini, lebih mengonyak otak. Sedari kalimat pertama hingga akhir, syarafku menegang terus. Bukan hanya teka-teki kisah tokoh utamanya, ending yang memunculkan seribu tanda tanya pun turut menyebalkan.

“Terus, kalau Petir, Akar, dan Partikel ini bertemu, mereka bakal ngapain? Apa yang bakal terjadi? Terus liku hidup Zarah (Partikel) dari nol sampai Jurnal Terakhir itu untuk apa?”, kira-kira begitu aku bersungut. Dee memang kece!

Nah, beda aliran sama Tasaro. Datar dan sangat bersahaja, ia bertutur tentang perjalanan pernikahannya dari awal hingga usia 8 tahun. Kuakui, novel ini kurang ramai. Adem Ayem. Meski sepintas terlihat penuh konflik, tapi aku (pembaca) menangkap sebagai peristiwa yang biasa. Mungkin memang begitu gaya dia bercerita.

Tapi, jangan salah! Sewindu itu ibarat modul pembelajaran ilmu komunikasi lintas budaya yang tidak didapat di bangku kuliah. Bonus ilmu kehidupan, ilmu berumah tangga, dan ilmu merenda hidup yang bermanfaat sekaligus mulia. Dan, itu ilmu sosial yang tidak pernah ditonjolkan dalam novel ilmu alam. Tidak ditonjolkan bukan berarti tidak ada, lho, ya!

Selebihnya, aku tetap akan mereview satu per satu lebih detail. Nanti. Sabar ya. 🙂

Oya, kenclengku sudah terisi beberapa koin. Ini bekal buat hunting buku lagi. Gimana denganmu?

About damai_wardani

(sedang dalam perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*