Rindu Tersenyum Denganmu

Ah, sejatinya aku malu. Sangat malu. Malu itu yang membuat lebih kurang 6 tahun hingga hari ini, kutekan perasaan -agar tidak kebablasan. Perasaan untuk peduli pada hal yang, jika boleh aku sedikit hiperbolis, membuatku trauma.

Read More

Rindu Tersenyum Denganmu

Ah, sejatinya aku malu. Sangat malu. Malu itu yang membuat lebih kurang 6 tahun hingga hari ini, kutekan perasaan -agar tidak kebablasan. Perasaan untuk peduli pada hal yang, jika boleh aku sedikit hiperbolis, membuatku trauma.

Read More
Yang Mengaku Puasa

Yang Mengaku Puasa

Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi hanya menahan lapar dan dahaga. Semoga aku bukan golongan jamaah munafik. Yang mengaku puasa tapi solat lima waktu tidak sepenuhnya terlaksana. Semoga aku bukan golongan…

Read More
Kampung Kita

Kampung Kita

Angin, benarlah kau kata. Seburuk-buruk kampung kita, tetaplah paling nyaman di dunia. Biarpun beceknya jalan tidak lebih baik dari galengan. Biarpun letaknya terpencil dan terisolir. Biarpun tumpukan batako tanpa lepah sudah bikin rumah tampak mewah.…

Read More
Air

Air

Benar, hujan kita telah kering Pantai pun jadi sedangkal piring Menguap tanpa jejak Persis kisah kita yang terbunuh jarak Memang, hujan dan pantai sama-sama air Keringnya hanyalah tanda kelana -mengembara Tanah saksinya: air meresap –…

Read More
Sunyi Senja #3

Sunyi Senja #3

Eh, kenapa celoteh soal rumah tangga sampai tempat paling sunyi di dunia? “Ah, namanya juga celoteh.”, ahaha.. Benar. Sah-sah saja, ya. Kau memang kawan paling kece, Angin!

Read More
Sunyi Senja #2

Sunyi Senja #2

Menyebut ‘sunyi’, aku teringat sebuah ruang yang dijuluki ‘the quietest place in the world’. Tempat paling sunyi sedunia. Tahukah kau dimana itu, Angin? Atau jangan-jangan kau sudah pernah masuk kesana tanpa kutahu?

Read More
Sunyi Senja #1

Sunyi Senja #1

Kau tahu, Angin.. Belakangan beberapa kawan mendekat, meminta sebuah jawab untuk hati yang berderap. Soal suami yang hendak kawin lagi, lebih parah justru tega membuat gara-gara agar lelaki konyol itu lepas dari anak istri. “Aku…

Read More
Mengangin

Mengangin

Selamat pagi, Angin.. Maaf, semalam aku pulas. Lebih tepatnya tak hirau sapaan syahdumu dalam bayang semu -mimpi. Ah, saking syahdunya hingga agaknya lebih tepat kusebut: nakal. Betapa nakalnya kamu, Angin. Semalam aku terpaksa gopoh-gopoh turuni…

Read More
Buat Apa

Buat Apa

Buat apa seret kaki kejar ilusi Buat apa paksa asa rebut imaji tahta Buat apa bebani rasa demi semu cinta Buat apa mati suri hidup iri bunuh diri Buat apa? Harta itu, tercipta dengan label…

Read More
Mencumbu Bayang

Mencumbu Bayang

Semburat mega masih merona, Sejenak tersipu mencumbu Bayang “Senja masih panjang, Sayang..”, mesra bisiknya Benar, senja masih panjang karena malam tak lagi datang Bayang pun berebut payung, berebut lindung Demi sengat di batas ubun milik…

Read More
Pupus

Pupus

Bahkan sekadar menyapamu saja, harus kubenamkan dalam-dalam. Ini bukan lagi soal sekat yang menidakmungkinkan hati bersua Tapi, lagi-lagi, Sekali lagi, Bukan aku yang selalu kau agungkan dengan segenap jiwa Bahkan lagi, lagi, lagi, Sekali lagi,…

Read More
Perisai

Perisai

Perisai itu, kembali mengembara Melukis angin yang kian rapat membungkus rahasia Diam Dalam diam Ia bicara Perisai itu, lagi, berkelana Mengejar pelangi dalam kemarau musim Peluh Lusuh Tak berdaya Perisai itu, lagi-lagi, mengayun tapak Meraba…

Read More

Abstraknya Asa

Angin, lama tak bersua. Masihkah ada seutas senyum untuk gadis yang tak tahu diri ini? Jangankan seutas senyum, bahuku pun siap disandari air matamu. Ahaha, tahu saja kalau mataku sudah berlinang. Menangislah bila memang harus…

Read More
Purna

Purna

Ketika ragamu purna; jiwamu purna; hatimu purna; Tinggal duduk manis saja Seraya menyeleksi tiap keping cinta yang ditawarkan Asal ragamu purna; jiwamu purna; hatimu purna; Pasti tiba masanya purna menyatu dengan, Kesejatian cinta. Tapi jangan…

Read More