Celoteh Angin 2

Waktumu habis. Saatnya pulang, Dam! makhluk yang paling suka mengagetkan itu kembali menguntit. Temanku juga sudah datang. Dia akan membersamaimu di bus, agar Kau sejenak terlelap. belum sempat kurespon, ceracaunya terus saja tak berjeda. Temanmu…

Read More

Celoteh Angin 2

Waktumu habis. Saatnya pulang, Dam! makhluk yang paling suka mengagetkan itu kembali menguntit. Temanku juga sudah datang. Dia akan membersamaimu di bus, agar Kau sejenak terlelap. belum sempat kurespon, ceracaunya terus saja tak berjeda. Temanmu…

Read More
Dingin itu..

Dingin itu..

Dingin itu.. Saat Kau bergumam Hmm Dingin itu.. Saat Kau mengulum senyum, memaling roman, dan berkedip sesekali Menghempus napas, lalu gelisah Kau menata mimik untuk memulai Memulai rajutan kata yang, Berat dan setengah memaksa  …

Read More

Celoteh Angin

Bertahan dalam kesendirian itu tidak mudah, bisiknya lirih. Tapi justru kelirihan itu yang membuatku kaget. Selalu kaget saat perlahan kehadirannya mengibaskan wajah letihku. Sudah ribuan kali kuminta mengabari sebelum menghampiri, bahkan mungkin ratusan ribu kali.…

Read More

Celoteh Angin

Bertahan dalam kesendirian itu tidak mudah, bisiknya lirih. Tapi justru kelirihan itu yang membuatku kaget. Selalu kaget saat perlahan kehadirannya mengibaskan wajah letihku. Sudah ribuan kali kuminta mengabari sebelum menghampiri, bahkan mungkin ratusan ribu kali.…

Read More
Cincin Tak Sepasang

Cincin Tak Sepasang

-Aku Hanya Melihatmu- Aku hanya melihatmu, malam ini Tak peduli jari manismu bercincin Persetan dengan calon putraku yang hendak lahir Aku hanya melihatmu, malam ini Tidak jua dia, istriku, baju yang tak pernah membugkus hati…

Read More

Wajah Ori nan Alami

The Old Photo Ini foto saya 14 tahun silam. Diambil saat acara perpisahan Taman Kanak-Kanak (TK). Masih lekat dalam memori, betapa lantang suara saya membaca Ikrar TK sebanyak 5 butir, hingga mencuri perhatian para hadirin.…

Read More

‘Kepala Dua’ & Jalan Damai

Senja masih kemayu saat kutulis ini. Persis selempar pandang di depan kamar, mega merah jingga membentang senyuman. Ufuk barat bersiap menyambut mentari beristirahat. Barisan persatuan burung pun tak mau kalah, mengangkasa ke utara; menuju peraduan…

Read More

'Kepala Dua' & Jalan Damai

Senja masih kemayu saat kutulis ini. Persis selempar pandang di depan kamar, mega merah jingga membentang senyuman. Ufuk barat bersiap menyambut mentari beristirahat. Barisan persatuan burung pun tak mau kalah, mengangkasa ke utara; menuju peraduan…

Read More

'Kepala Dua' & Jalan Damai

Senja masih kemayu saat kutulis ini. Persis selempar pandang di depan kamar, mega merah jingga membentang senyuman. Ufuk barat bersiap menyambut mentari beristirahat. Barisan persatuan burung pun tak mau kalah, mengangkasa ke utara; menuju peraduan…

Read More

Sudahkah Berterimakasih? #CelotehSangBunda

 Jika dia tak menatih kaki untuk menggendong kalian, masih mungkinkah piala itu tergenggam? Tapi acap kali semua lupa, hanyut dalam euforia. –Relung Damae– Ini bukan perkara juara. Bukan soal piala seperti pesan hari lalu: hari…

Read More