Sunyi Senja #3

Eh, kenapa celoteh soal rumah tangga sampai tempat paling sunyi di dunia? “Ah, namanya juga celoteh.”, ahaha.. Benar. Sah-sah saja, ya. Kau memang kawan paling kece, Angin!

Ngomong-ngomong, sejak kapan kita berkawan, Angin? Aku merasa kita belum pernah berkenalan. Tiba-tiba saja aku sok akrab. Mungkin juga aku yang ke-pe-de-an, kukira kau benar-benar mendengarkan dan menyahuti setiap hal yang kubicarakan. Tapi aku pun tak tahu pasti kalau semua perbincangan kita di bawah senja ini hanya halusinasi.

“Sejak kau masih di dalam kandungan.”, benarkah? Huhf.. Kalau begitu, aku lega. Aku senang kau mau berkawan denganku, Angin.. Terlebih mau mendengar semua celotehku. Bahkan kau selalu lebih dulu mengingatkanku akan kekhilafan. Kau juga yang lebih tahu tentang tangis di balik tawa, tentang segala hal yang tak mampu terkata.

Memang, kisah kita tak seternama Si Hachi dengan tuannya. Kau tahu Hachi? Anjing Jepang yang mampu berkawan dengan manusia. Dia dikenal sangat patuh, baik, dan setia pada pemiliknya. Hampir segala ketrampilan bisa diajarkan, kecuali satu, Hachi agak susah diajak bermain lempar-tangkap bola. Kalau tidak salah ingat, kita pernah menonton filmnya, kan?

Meski dipermak ulang oleh orang Barat, film itu tetap berhasil mengajarkan makna sebuah kesetiaan dan cinta sejati. Betapa tidak, si Hachi -yang dalam film dinamai Hachiko- tetap menunggu kepulangan tuannya di depan stasiun kereta, saban sore. Hal itu ia lakukan selama 9 tahun (dalam film dikisahkan 10 tahun), dari musim semi berganti gugur, berputar panas menjadi dingin. Padahal, semua orang tahu bahwa uannya sudah di alam baka.

Kisah kita, Angin, juga tidak semasyhur si kambing dengan penggembala. Sebutlah Nabi Agung kita, Muhammad saw, penggembala ulung sedari belia. Sirah Nabawi juga menyebutkan, hampir semua Nabi pernah menjadi penggembala. Konon, itu didikan langsung dari Sang Maha Guru -Allah SWT. Kambing itu mengajarkan keuletan, kesabaran, dan kasih sayang pada penggembalanya. “Bila dengan hewan yang bau, suka ngambek, dan kotorannya menjijikkan saja bisa bersahabat, apalagi dengan manusia?”, kira-kira begitu sirah berkata.

Hiks.. Hiks.. Hiks..”, lho, kenapa menangis, Angin? Adakah yang salah dengan ucapanku?

“Tidak. Aku tiba-tiba teringat Gaza.”, ah, iya. Israel berulah, Gaza bergejolak.

Seperti anak ingusan, aku masih sering bertanya kenapa. Kenapa israel begitu membenci Palestina? Kenapa keduanya tidak berkawan saja? Kenapa semua negara di seluruh dunia tidak bergandeng tangan mendamaikan mereka? Yang terakhir mungkin sudah diusahakan, tapi belum berhasil.

Saban tahun juga diberitakan sejumlah aktivis demo, mendatangi gedung kedutaan Israel dengan sumpah serapah dan kutukan. LSM, organisasi, komunitas, hingga negara berbondong-bondong mengirim bala bantuan. Mulai makanan, pakaian, hingga tentara lengkap dengan senjatanya. Ratusan wartawan dari seluruh dunia juga diterjunkan untuk mengabarkan setiap bom yang dijatuhkan, peluru yang menembus, dan pedang yang menghunus.

Angin, apakah manusia-manusia Israel itu tidak diciptakan dari tanah? Apakah mereka tidak hidup di atas tanah? Apakah mereka tidak ingat bahwa ke dalam tanah-lah mereka lenyap -persis seperti sebelum mereka tercipta? Lalu, mengapa tanah -Palestina- yang tidak lain hanya tempat lahir-hidup sementara-mati juga sementara (hingga kiamat tiba) itu justru diinginkan mati-matian hingga tega mematikan manusia-manusia yang, bahkan masih seputih kapas?

Dimana kiranya hati nurani Israel, Angin? Bila mampu, ini pikiran konyolku, ingin sekali aku bertemu hati nurani itu. Hanya untuk mengatakan: anjing, kambing, kelinci, ayam, bahkan kucing pun mau dan mampu bersahabat dengan manusia; berkawan dengan manusia; disayangi dan menyayangi manusia; bahkan Angin saja mau menjadi teman manusia; kenapa manusia-manusia Israel justru membenci, memusuhi, dan membunuh sesama manusia?

Ah, bodohnya aku, Angin. Sedalam apa pun aku berpikir, tetap tidak bisa menemukan hukum kebenaran untuk membunuh manusia. Bahkan Penguasa Alam Semesta dalam hukum Islam jelas menegaskan, membunuh itu dosa besar -tidak termaafkan. Kalau pun dimaafkan, ya, harus dibalas dengan dibunuh atau ditebus dengan 100 ekor unta per kepala. Lha, kok, Israel malah seakan bahagia membunuh manusia?

“Barangkali yang justru bahagia itu orang Palestina,”, maksudmu? “Bukankah orang yang bahagia adalah orang yang kuat hatinya?”, dan kesulitan hidup orang Palestina membuat hati mereka lebih kuat. “Benar. Mereka tidak takut dengan kematian. Memang, mereka tidak punya segala kecanggihan senjata Israel, tapi mereka selalu tersenyum seraya berkata: Israel bangga dengan bom, kami bangga dengan Allah.

Tanyakan soal cita-cita pada anak-anak Gaza, jawabnya: ‘Syahid sampai Zionis kalah’. Bayangkan, perempuan mana yang melahirkan putra setangguh mereka? Rahim mereka melahirkan manusia mulia, hidup hafal Al-Qur’an, mati menghuni syurga. Jika anak dan wanitanya saja demikian, apalagi pemudanya?”

Iya, Angin. Mereka kuat karena mereka benar. Kebenaran adalah kekuatan, kebenaran semakin menguatkan iman. Dan, janji Pemilik Kehidupan ini tidak pernah dilanggar, bahwa kebenaran pasti akan menang.

Tapi, kau belum jawab, dimanakah hati nurani Israel, Angin?

“Besok kucari. Sekarang senja sudah usai. Meski esok aku pun tidak yakin bisa menemukan nurani Israel.” Kalau sudah ketemu, tolong sekalian sampaiakan pesanku tadi. Oke, Angin?***

 

Photo by Damae Wardani

Leave a Comment

*