Simfoni Abah Masruri #2

Aku terkesima. Pakaian serba putih yang mereka kenakan sekilas tampak seperti pengibar bendera di upacara. Tentu bukan itu maksud pasukanku. Selain mudah dikenali saat meliput setiap sudut pondok ini, pakaian itu dinilai menjadi alternatif terbaik lantaran seragam reporter gagal dibuat (dalam waktu singkat).

Aura sumringah terpancar dari rona mata 10 anggota Tim Liputan Haul Abah 3 ini. Tak peduli semalam hanya tidur 2 jam dan pagi ini belum sarapan. Mereka siap mencari, mengumpulkan, mengolah, dan mempublikasikan setiap informasi dari acara hari ini. Kamera DSLR, kamera digital, buku catatan kecil, pulpen, dan ID Card sudah rapi di tubuh mereka.

Think Out Of The Box and keep Focus, chache The Unic Angle!”, kataku di sela breafing pagi ini. Meski sudah kukatakan puluhan kali saat sesi Brain Up sore kemarin, mereka tetap tampak kian berbinar setiap mendengarnya.

Melepas mereka di depan ruang redaksi M2Net, jantungku berdegup kencang. Entah mengapa, tanggung jawab sebagai Koordinator Liputan kali ini, walau pernah kulakukan berkali-kali, terasa lebih berat. Di tangan merekalah informasi acara akan tersebar sekaligus menepikan rindu para alumni di Turki, Mesir, Yaman, dan belahan dunia lain yang tak bisa hadir.

Memang, 25 berita yang ditargetkan Pemred yakin bakal tercapai. Tapi target 10 berita untuk 1 reporter yang kuwajibkan ke mereka? Was-was. Belum lagi soal foto jurnalistik yang langsung terhubung dengan LED sekolah.

“Damae, sarapan dulu di parasmanan. Ajak alumni yang lain ya.”, suara panitia membuyarkan kecemasanku. Aku mengiyakan dengan anggukan. Mata nanar menatap deretan makanan di sayap kiri sekolah. Rasa lapar menggeliat.

Sengaja mandi awal, tentu setelah antri panjang dibagi lebar ba’da subuh tadi, kukenakan pula dresscode selengkapnya. Dresscode yang seratus delapan puluh derajat mengubahku mirip penampilan muslimah: gamis. Setidaknya, aku tidak canggung untuk bertegur sapa dengan sesama alumni ketimbang baju lapangan yang saban hari kukenakan.

Usai sarapan dengan balado kentang, semur daging, dan tumis pare (meski ada nama lain untuk menyebut semua makanan itu, biar kunamai sendiri), kusambut beberapa alumni yang baru saja tiba. Beberapa titik masih sepi, kendaraan di parkiran pun belum mengular. Namun lalu lalang panitia yang sudah mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari, serasa terbayar dengan kedatangan para alumni.

Mereka, dari Brebes, Tegal, Cirebon, Indramayu, Semarang, Malang, Jogja, Cilacap, Banyumas, Bandung, Jakarta, bahkan luar pulau Jawa, rela menempuh ratusan hingga ribuan kilometer; demi mengikuti acara sakral saban tahun di Al Hikmah 2. Haul Abah Masruri. Ini kali ke-3 yang berarti sudah 36 bulan Pengasuh pesantren meninggalkan kampung peradaban ini.

Bukan hanya jarak, tapi juga pertimbangan waktu, tenaga, aktivitas lain, juga ongkos perjalanan, tak membuat mereka enggan datang. Apa sebenarnya makna haul untuk mereka? Magnet apa yang menarik dengan amat kuatnya hingga hari ini terkesan istimewa bagi mereka? Apa yang begitu berkesan dari sosok Abah?

Leave a Comment

*