Simfoni Abah Masruri #1

Mentari baru saja menyembul di sela pucuk gunung yang belakangan ini sering demam, Slamet. Embun masih pulas di daun atas. Desir angin mengangkat satu per satu bulu kuduk hingga reflek dua tangan saling memeluk. Senyum rembulan tersisa sekira beberapa senti diukur dari tempatku berdiri.

Kukucek bola mata. Merapatkan jaket ke tubuh yang ringkih kedinginan, menggantikan selimut. Pandang kuedar. Suara tawa dan gesekan kursi di keramik terdengar nyaring dari lantai 3. Sejak tadi malam ruang kelas sekolah ini difungsikan sebagai penginapan.

Dentum kaki turun naik anak tangga pun menambah tingkat kesadaran yang masih loading. Beberapa pria berpeci lengkap -dengan baju koko dan sarung- sedang duduk terkantuk di meja depan tangga. “Itu para alumni, syukurlah sudah sampai”, gumamku seraya meguap.

Speaker baru saja nyala saat langkahku melambat. Masjid An-Nur sumbernya. Senandung sholawat yang selama tiga tahun di tiga tahun lalu selalu kudengar saban fajar, masih sama khasnya. Mengheningkan batin. Terlebih lantunan satu per satu ayat Al Mulk dengan kefasihan makhorijul huruf bervolume sedang. Naik turunnya nada serasa pas di telinga.

Dari arah timur, air muka teduh berjalan pelan. Mushaf dan majmu’ tampak nyaman di dekapan. Satu dua kaki ada yang alasnya beda. Hijau kecil berpadu merah kedodoran, sekilas mampu mengundang tawa. Meski lebih banyak kaki yang baik-baik saja tanpa apa-apa.

Seiring adzan berkumandang lantang, barisan satu itu terus bertambah. Dua baris, tiga baris, sepuluh baris, hingga menyebar ke seluruh sudut yang bisa dilalui dari asrama. Terbirit-birit di ujung deru sirine juga ada.

Dari arah utara tak beda. Hanya saja, mereka yang datang megenakan atasan mukena dengan beragam motif dan warna. Paduannya sarung, batik mendominasi. Berjalan anggun menuju masjid lantai dua. Serambinya hampir penuh. Beberapa pengurus sigap mengatur shaff. Hitungan mundur dari 10 mulai mendebarkan. Habis angka, habis pula kesempatan untuk bernego dengan keterlambatan dan hukuman.

Tiba-tiba hatiku basah. Memoar kehidupan santri menyeruak ke muka. Kehidupan yang hanya berjalan di sebuah kampung peradaban, bernama Pesantren.

Kampung itu, nyata adanya tapi sering dicibir kamuflase berfatalis. Baginya, dunia hanya alat untuk menggapai akhirat. Maka kehidupan yang terkisah kemudian lebih banyak mengurusi soal ukhrawi. Meski orang kampung itu tahu betul, menikmati akhirat adalah kemustahilan bila tanpa membangun peradaban dunia yang anggun.

Sebuah tempat bisa disebut pesantren, kata Zamakhsyari Dhofir (Tradisi Pesantren, LP3ES, 1985), minimal memiliki empat elemen utama. Pondok, masjid, santri, dan kyai. Berbagai studi tentang pesantren menyimpulkan, kyailah yang paling menentukan masa depan sebuah pesantren. Ialah tokoh sentral yang mampu menghitam-putihkan pesantren.

Di tangannya, pesantren menjadi institusi sosial yang berjuang keras melakukan transformasi nilai-nilai salafi sesuai kemajuan zaman. Pesantren menjadi wadah anak-anak bangsa untuk menuntut ilmu, lalu mengamalkan ilmunya pada masyarakat.

Di tangannya pula, pesantren bermetamorfosis menjadi simbol dari kekuatan kultural yang akan melesat ke masa depan. Jelas mustahil bila pesantren adalah bara api yang siap memanggang siapa pun. Ia justru mata air yang siap menghidupi dunia.

Kiranya masuk akal jika suatu saat kyai meninggal atau hengkang (demi kepentingan lain), akan berpengaruh terhadap eksistensi dan kualitas pesantren. Bahkan tak jarang, kematian Sang kyai membawa pula kematian bagi lembaga pesantren yang didirikan.

Kepergian sang kyai ke dunia kepentingan lain pun, tak pelak membawa serta jiwa pesantren itu ke dunianya yang baru, meski bangunannya masih kokoh menghujam di tengah perkampungan peradaban.

Lalu, bagaimana dengan Al Hikmah sepeninggal KH. Masruri Abdul Mughni?

 

—bersambung—

Leave a Comment

*