Sesalam Nyaman

Huhf.. Bahkan aku hampir lupa seperti apa empuknya kasur kesayangan. Sepekan terakhir ini aku selalu tertidur di atas karpet tipis. Merah merona, karpet berhias semua tokoh kartun jamanku masih unyu. Meski lengkap dengan bantal bercorak bunga mungil dan selimut pinky keunguan. Tetap saja punggung sedikit menggerutu setelah fajar menyingsing. Bahasa beken ala wong Jowo mah, “nyangkreng”.

Namanya tertidur, tentu tidak disengaja. Kadang sambil bercengkrama dengan Si Lepi -panggilan sayang untuk laptop, bangun-bangun baterai habis, file berantakan, inet on semalaman. Kece kan? Sering sedang mengoprek referensi dari tablet, koran, buku matkul, dan beberapa sampel garapan yang dinyatakan lulus ujian.

Aku memang sedang haus bacaan. Saking hausnya, dalam 24 jam bisa melahap beberapa novel dengan ketebalan rata-rata cukup untuk memukul supir angkot rese. Inilah kenyamanan tingkat Dewa (kalau benar Dewa itu ada) yang ampuh meninabobokan (sekaligus lebih kuat menjaga mata ketimbang kopi).

Kalau sudah terkapar, sekadar menggelar kasur yang bahkan tak berjarak 5 sentimeter, rasanya lupa segalanya. Maka detik ini, detik aku mengulet dan kaki berpuas menguasai semua tepi, seakan sempurna semua hasrat yang kupunya.

Ah, ya, aku punya banyak celoteh yang tersimpan rapi di rak Kolong Langit. Nanti, sabar. Jemariku belum menuntaskan tarian. 🙂

Selamat istirahat, Angin, Senja, juga Mentari hari ini. Percayakan mimpi malam pada Bulan, dia menjaga -juga mempercantik auranya.

Leave a Comment

*