Sensasi Cappucino dan Kamu (Malam Ini)

Jadi begini rasanya waktu diperlambat. Sedetik bagai setahun. Sensasi cappucino yang cup pertamanya habis sekali tenggak, mendadak terasa amat mencekat. Padahal, hangat. Setengah cup kedua baru kumasuki beberapa pipa es kecil. Kusebut pipa karena memang itu kukira nama yang pas untuk men-describe bentuk unyu-nya.

Kau tahu dimana menyiksanya cappucino kental pahit -bahkan aku butuh 2 sendok gula sebelum meminum- itu? Reaksinya tidak ces-pleng. Butuh sekira satu jam (yang kebetulan dilahap durasi perjalanan). Tapi begitu turun dari kendaraan, kepalaku seakan melayang di medan yang tak kukenal.

Sedikit mengaduh sambil memukul kecil sisi kanan kepala, aku berusaha menaiki beberapa anak tangga. Sempoyongan. Persis kondisi tensi 70 per 60. Sama juga kukira tekanan pada 150 per 90. Yang terlihat mata bukan lagi lantai datar dengan kamar kos tegak di atasnya. Melainkan, buram. Kabur. Semua bergoyang.

Sedikit kutekan batok kepala, sakit bukan main. Paling jelas mataku bisa melihat seperti bayangan di cermin cembung. Setengah melengkung. Untungnya aku masih bisa meraba jalan. Jika tidak? Ambruklah!

Serangan cacing perut tak kalah dahsyat. Kuakui hari ini tidak lebih dari sepincuk nasi yang sudah terkunyah. Sengaja tadi beli sebungkus makan malam. Begitu kubuka, muntah tersulut aroma. Aneh. Rasanya lapaaarrr sekali, tapi mencium masakan malah huueeekkk… “Sial. Sudah kubeli mahal-mahal.”, aku bersungut lantang.

Kucoba rebahan. Tarik napas pun sesak. Semoga bukan sinus berniat kumat. Ngomong-ngomong, ini perdana terjadi setelah sekian lama aku jadi penikmat cappucino.

Satu hal yang sangat mengusik pikiran justru bukan “ada apa dengan tubuhku?”, tapi “ada apa denganmu?”. Iya, kamu. Sepanjang jalan kutahan bersitan ingatan tentang janjimu malam ini. Juga kutahan penasaran akan hilangnya kabar yang sudah berkali-kali kutanyakan.

Ketidakberesan aliran darah dari jantung ke seluruh nadi ini, kurasa, bisa jadi pertanda “sesuatu tentangmu”. Cappucino hanya perantara untuk mempertegas kesamaran rasa. Samar yang terlalu akut hingga berujung siklus ketakutan (tanpa muara).

Tampaknya, entah dimana hatimu berada, kau tahu ini bakal terjadi. Hingga fajar menyapa kembali, mata masih terjaga dengan lingkaran hitam yang kian besar; kau tak kunjung memberi sign. Sayangnya aku tak yakin tentang makna ketiadaan sign itu.

Ketidakyakinan yang kian menguatkan: harusnya sejak awal aku sadar, kau hanya ketidakmungkinan yang mustahil kusemogakan. Atau, jangan-jangan, memang begini caramu menggendamku?

Tiba-tiba keringat hambar mengalir dari ujung rambut hingga kaki. Aku, tak sadarkan diri.

Leave a Comment

*