Sejumput Takut

Sempat bergidik, sama sekali tak berani melirik, saat tahu semua kursi diduduki penumpang laki-laki. Aku di deretan tengah. Satu-satunya makhluk paling cantik di bus ini. Mending kalau siang, lha ini jalanan sepi, gelap, kanan kiri pohon, hutan, dan sawah berantakan.

“Jangan-jangan diantara mereka ada pencopet, penculik, pemerkosa, pembunuh.. Hiiiii..“, otakku langsung parno. Berita kriminal di tivi saban hari seketika membius jantung. Deg. Deg. Deg. Suer, aku ingin secepatnya tiba di lokasi walau kutahu itu mustahil. Perjalanan baru saja dimulai.

Buru-buru kubuka plastik hitam berisi es krim susu, roti coklat, dan soft drink bersoda. Kulumat es krim penuh nafsu. Entah karena lapar dan haus, atau agar tangan berhenti gemetar. Sejenak berusaha cuek. Overt attitude. “Mereka tidak akan mengganggu aku”, lirih kubergumam yang agaknya lebih mirip rintihan.

Masih berlumur was-was dan cemas, tangan kanan meraih ponsel selagi yang kiri memegang cup es krim. Berharap kau, entah sedang apa bersama siapa, setidaknya bisa menemani dan menenangkan (meski yang kubutuh hanyalah rasa aman).

Ternyata alam berkata lain. Alam ingin melihatku kuat melangkah sendirian. Kuat yang berarti bukan hanya mampu, tapi juga bisa bersikap wajar bahkan di tempat yang berpotensi untuk meghajar. Kira-kira begitu penafsiranku atas ketiadaan balasan kontak darimu. Ketiadaan yang sungguh melatihku untuk berani melawan takut, termasuk takut atas kelemahanku.

*Tiga jam selepas maghrib, di jalan yang belum kuhafal, serasa tiga tahun.

Leave a Comment

*