Secret Mission Dibalik Bedah Buku dan Workshop Tewe

Kalau dibilang terlambat, ya. Bahkan saya katakan amat sangat terlambat. Acara yang didukung oleh ICTWatch sebagai sponsor utama sudah terlewat 10 hari lalu, apa mau dikata jika saya baru menyempatkan diri untuk berbagi cerita sekarang. Tapi, jika kita menganut paham lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, rasanya tak jadi masalah, kawan. 🙂

Bedah Buku dan Workshop Travel Writer Bersama Damae Wardani

Sepuluh hari dihitung mundur dari terbitnya postingan ini jatuh pada Minggu, 27 Mei lalu.      Ialah hari bertemunya kedua bola mata ini dengan ratusan pasang mata yang hendak menjadi ‘Duta Malhikdua’,      dalam perhelatan mengasyikkan selama menyambangi Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan School Outing Program (SOP) sebulan ke depan. Dalam program spesifikasi atau kegiatan ekstrakurikuler tahunan itu, saya berkesempatan berbagi seputar      travel writing dan dunia kepenulisan dalam agenda Bedah Buku dan Workshop Travel Writer Bersama Damae Wardani. Benar-benar tantangan baru, kawan.

Meski sebelumnya saya harus berdebat hebat dalam proses perijinan orang tua dikarenakan perjalanan Bandung-Brebes seorang diri (andai ibu bisa membaca postingan ini, ananda sampaikan beribu maaf atas ketidaksopanan ananda waktu itu. Bukan maksud hati tidak patuh apalagi menentang ridhomu, tapi percayalah, anakmu hanya ingin belajar mandiri untuk menghafal 8 arah angin diseluruh penjuru), acara yang bertempat di GOR Al Hikmah 2 Brebes itu tetap terlaksana sesuai rencana. Bahkan satu hal yang tak terduga, serangkaian acara yang diikuti oleh seluruh siswa Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 (Malhikdua) kelas dua itu diwarnai aneka batik yang dikenakan peserta, panitia, tamu undangan, juga para pembicara. Sebuah ketidaksengajaan yang unik, teman.

Opening ceremony prosesi bedah buku, dibuka dengan lantunan merdu ayat suci Al Qur’an, khas pesantren Al Hikmah. Dilanjutkan Wejangan atas nama Kepala Madrasah yang disampaikan oleh Drs. Sulkhi Azis. Dengan gaya bicara yang kharismatik, stockholder yang sangat berpengaruh di Malhikdua ini berhasil membangkitkan semangat dan menitipkan amanah sekolah untuk para peserta. Sedikit ice breaking, acara yang masuk dalam rangkaian agenda Briefing PKL ini juga dimeriahkan oleh Grup Rebana OSIS Malhikdua dengan personil baru. Boleh dikata kemajuan, segenap peserta duduk manis dan khidmat mengikuti satu persatu rundown acara dibawah kendali dua dara manis berbaju pink sebagai MC, Chacha dan Icha. Dibilang kemajuan, karena memusatkan perhatian peserta untuk acara semacam ini terbilang sulit di Malhikdua.

width=700

Sesi Bedah Buku

Diperkenalkannya Em Farobi Affandi sebagai moderator oleh MC, menjadi pertanda sesi Bedah Buku ‘Out Of D’Box’ dimulai. Inilah saat dimana buku saya akan dikupas tuntas oleh pembicara, Pradna Paramita, seorang cerpenis yang paling lemah dengan tawaran makan. Hadir pula sosok yang sudah tidak asing lagi di kalangan Malhikdua, ialah pemilik sapaan akrab ‘Paman Gembul’ yang juga tak pernah kuasa untuk menolak makanan, dibawah bendera M2Net Publishing yang baru saja dirintisnya. Disinilah, buku yang bercerita tentang perjalanan SOP saya dua tahun lalu dan petualangan ke Pare (Kampung Inggris di bilangan Kediri, Jawa Timur) 2011 lalu, dibabat habis oleh mereka (meski realnya penyampaian pembicara melenceng dari pesanan :p). Oya, hampir lupa, acara ini juga disaksikan oleh salah satu blogger Banyumas, Estiko (tapi saya lebih suka menyebutnya ‘es kiko‘, hehehe..) yang tampil sebagai tim penggembira. 🙂

width=203Beruntung 10 pasang sandal (yang sengaja diselenkan) dari salah satu donatur berhasil menjadi penambah gairah dan antusias peserta untuk bertahan selama acara berlangsung. Setidaknya, doorprize ini terbukti ampuh sebagai pengusir kantuk (maklum, dunia santri tetap tak terpisahkan dari ‘ngantuk’ saat pikiran terlalu fokus mendengar dan melihat penyampaian para pembicara). Tak hanya untuk mereka yang beruntung, hadiah ini juga diberikan pada dua penanya terbaik saat sesi tanya jawab berlangsung.

Sebelum adzan dhuhur bergema, sesi bedah buku dicukupkan dan peserta diperkenankan beristirahat hingga jam 1 siang. Disela breaktime, panitia yang semuanya tergabung dalam Malhikdua Network (M2Net) sibuk merapikan tempat dan merapikan GOR lantai dua untuk acara workshop. Sementara bagian redaksi sibuk memposting berita acara, ada juga yang mewawancarai para narasumber disela jam makan siang. Semua terlihat kompak dan menggemaskan, saya senang sekali melihat keringat mereka bercucuran saat bahu-membahu demi suksesnya acara (karena inilah tujuan saya, hihihi            –peace–).

width=800

Sesi Workshop

Sesi workshop tak seformal Bedah Buku, pesertanya juga tak sepadat acara itu. Selain memang dibatasi untuk menjaga kekondusifan acara, dari 65 pendaftar hanya hadir tidak lebih dari 50%-nya. Lumayan menghemat energi, kawan (betapa tidak, tubuh ringkih ini sudah mulai menguap dan terlihat sayu lantaran istirahat yang sama sekali tak terbilang cukup). Dengan ruangan lebih kecil dari sebelumnya, ditambah pengeras suara, tentunya sangat membantu konsentrasi peserta dalam mengikuti materi ‘Travel Writing’ yang saya berikan. Hanya saja, hawa panas di lantai dua tetap tak terelakkan meski sudah terpasang dua kipas angin di atas kepala.

Masih dengan moderator yang sama, saya berbagi seputar pengenalan dunia menulis, menulis perjalanan, dan cara memulainya. Tak banyak yang saya sampaikan, selain workshop lebih dekat dengan praktik langsung, juga karena sebagian materi sudah disampaikan oleh mas Pradna saat Bedah Buku sebelumnya. Buku bacaan dan Sandal yang sengaja diselenkan turut mewarnai lagi dalam sesi undian doorprize, tak terkecuali untuk tulisan perjalanan terbaik yang dihasilkan peserta tidak kurang dari 15 menit, dalam praktik travel writing.      Miftah, ketua panitia yang baru muncul di sepenggal moment terakhir workshop ini, dikarenakan kepulangannya pasca kelulusan Malhikdua 3 hari sebelum acara,      juga sempat memberikan hadiah untuk salah satu peserta.

Acara ditutup dengan foto bersama di bawah backdrop yang terpampang di dinding depan. Mantap sekali, kawan.

Oya, hampir saya lupa. Terima kasih dari lubuk hati terdalam saya ucapkan untuk Radio Tsania FM, yang sudah berkenan mengundang saya untuk berbincang seputar acara tersebut. Saya senang sekali bisa menyapa para pendengar setia, setahun lalu. Makin sukses dan maju terus untuk Tsania.

Satu lagi, untuk semua pihak yang telah tergabung dalam program Alumni Berbagi baik yang benar-benar alumni atau sekedar menjadi donatur, hatur nuhun ka sadayana. Kontribusi Anda sangat berarti demi terselenggaranya acara ini.

Untuk M2Net

Serangkaian acara yang baru saja saya ceritakan diatas ialah ide gila saya yang akhirnya disetujui Cak Novi setelah melalui perdebatan panjang. Berangkat dari keprihatinan saya akan kacaunya acara M2Net selama ini, menimbulkan semangat untuk menyelenggarakan acara besar yang semuanya murni dimotori oleh anggota M2Net sebagai pembelajaran. Bagaimana cara menyelenggarakan acara, mengatur kekompakan panitia, mengundang pembicara, menjaring sponsor dan donatur, membuat konsep acara yang menarik, hingga menyelipkan manfaat ganda dari penyelenggaraan acara tersebut: membekali calon peserta PKL untuk mendokumentasikan perjalanan mereka dalam bentuk tulisan.

Maka, mohon maafkan segala kemarahan saya, oprak-oprak, kecerewetan, benatakan, dan segala bentuk khilaf selama proses perencanaan, persiapan, penyelenggaraan, hingga evaluasi acara terhadap semua panitia. Semua itu saya lakukan tak lain dan tak bukan karena saya tak ingin acara yang sudah diperdebatkan sejak 3 bulan lalu kacau ditengah jalan. Terbukti, 4 jempol untuk kerja keras kalian, setidaknya saya cukup puas dan berterima kasih atas segenap partisipasi. Siapa bisa mengira, berkat penyelenggaraan acara ini pula, buku diary mini yang dua tahun lalu masih rahasia, bahkan tak berarti apa-apa, kini bisa dibaca sebagai travel writing (catatan perjalanan) yang setidaknya bermanfaat untuk peserta PKL sebagai panduan mengabadikan perjalanan mereka.

Satu hal yang saya ingatkan, ini baru permulaan, kawan. Saya tunggu event-event spektakuler berikutnya. 🙂 ***

Urutan foto di atas:

  1. Tiket masuk peserta. Meski gratis tetap ada tiketnya loh.. Foto cewe berjejer di sisi kanan diambil dari muslimahbackpacker. belum ijin ybs. susah cari kontaknya. di web tsb ga ada kontaknya. maaf ya.. habis bagus banget. desainernya tergoda ;p
  2. Penerima Sandal Selen. Cukup seneng meski sandalnya selen.. Hmm.. beginilah santri. padahal dari lubuk hati panitia terdalam berharap penerima sandal akan mencari belahan sandal lainnya agar sempurna jadi sepasang.
  3. Backdrop 3 x 2 meter, didesain kotak-kotak agar bisa dipotong usai acara dan bisa dibawa pulang (maksudnya dijual) ke siapa yang minat. Habis sayang cetak mahal2 untuk sekali pakai.

Galeri Foto Tewe lainnya :

(7) Comments

  • sawali tuhusetya
    06/06/2012 at 8:55 am

    tidak ada istilah terlambat kok damae. masih up to date kok, hehe …. diary mini yang pasti khas damae banget gitu loh, hehe ….

    • damai_wardani
      05/12/2012 at 12:23 am

      hehe.. iya pak dhe. gara2 uas jadi terlambat mau curhat ini teh, hahaa… makasih pak dhee

  • acepentura
    06/06/2012 at 10:35 am

    Kereeeennn…
    Sukses untuk Damae dan maju terus M2Net…

    • damai_wardani
      05/12/2012 at 12:22 am

      terima kasih kang encepetura, duh namanya asa belibet euy.. hehehe… jangan bosa berkunjung ke diary damae ini yaaaa….
      oya, hatur nuhun pisan buat bantuan sponshorshipna, moga makin sukses juga buat akang.

  • Sekar Widati
    08/06/2012 at 11:22 am

    Wuih wuih wuih,,, semangat berkarya ya Dek…

    • damai_wardani
      05/12/2012 at 12:22 am

      iya, makasih tete sekaaaarrrr… semoga tidak bosan membaca celoteh damae, hehehe

  • Pingback: Baju For Sale | Pakaian Adat Sunda

Leave a Comment

*