Sebentar Saja

Sebentar saja. Biarkan aku terpejam.
Sebentar saja, biarkan aku mengingat sketsa itu: berdiri memandangimu, sedikit kecewa karena kedatanganmu meresahkan perjalanan. Tapi saat tangan terbuka dan menikmati tiap tetesmu, senyumnya terkembang sempurna. Seketika itu pula ia genggam tanganku untuk.. berlari bersamamu, Hujan.

Kulihat kau mengangguk, menyungging senyum.
Benarkah kau memang datang untuk melukis kenangan itu? Persis seperti wasiatnya: jika nanti kita tak bersama lagi, hujan ini akan mengingatkan kita bahwa, setidaknya, kita pernah saling mengenal.

Dan hari ini, saat aku kembali berdiri di sini, menengadah datangmu duhai hujan.
Aku tersadar, bahkan jika hanya ingatan akan kenangan itu yang kupunya, itulah satu-satunya cara agar kami bisa bersama. Ya, bersama dalam kenangan, hujan. Itulah mengapa aku meminta sebentar saja, untuk “mengingat hujan kita”. Sebentar saja.

Leave a Comment

*