Sadar dan Sabar

Untuk bisa mencapai puncak, memang harus menaiki anak tangga. Sayangnya tak mesti itu berjalan mulus. Kadang kita harus terjatuh, terpeleset, terluka, hingga terpelanting dan kembali ke anak tangga pertama.

Pasti. Sakitlah. Bukan karena darah yang menetes, keringat yang mengucur, atau perih tak tertahankan. Itu bisa diobati, luka mengering, selesai.

Tapi luka di hati yang sering dinamai: kecewa, kesal, marah, putus asa; seolah membuat semua usaha sia-sia. Apalagi yang sudah mencapai anak tangga terakhir, hampir mencumbu manisnya puncak.. Tiba-tiba, brukkk!!! Ah.. Serasa mimpi buruk. Butuh energi besar demi sekadar bisa sadar dan sabar.

Sadar bahwa tak ada durian yang tak berduri. Untuk mencicipi manisnya, harumnya, segarnya, dan nikmatnya durian.. Kita harus melewati duri di kulitnya dulu. Cara membelah durian pun tak bisa sembarangan. Ia memiliki rute (semacam garis) yang sengaja dicipta untuk menuntun belahan terbaik.

Juga harus sabar. Sabar untuk menghadapi setiap rintangan dan ujian. Hanya sabar yang akhirnya menumbuhkan lapang dada. Legowo, boso Jowo-nya. Legowo ini akan bermuara pada ketulusan. Hingga tak ada beban, apalagi keterpaksaan, untuk memulainya kembali. Dari nol, yang sama maknanya dengan tulus.

Akhirnya, yang tersisa dari kefanaan dunia hanyalah..
ketulusan.
Dan itulah satu-satunya bekal untuk berjumpa dengan “Keabadian”.

Leave a Comment

*