Rain Ritual

Perciknya terdengar pelan di atap kafe, saat aku baru saja menyeret kursi di depan meja berangka 13. Menepi dinding kaca. Syukurlah, tidak sempat basah. Apa jadinya seisi tas mungilku jika kehujanan.

Aku duduk bersandar dan melemaskan punggung. Tangan kanan kuangkat sejajar bahu, kubelokkan siku dan kencang kutarik lurus. Bunyi, klek. Tanda tangan ini terlalu lama digunakan. Hal yang sama kulakukan pada tangan kiri. Lalu satu per satu kutarik dan kuremas jari-jari. Klek, klek, klek..

“Americano coffee..”, belum selesai kunikmati peregangan jemari, seorang pelayan datang mengantar pesanan. Aku tersenyum dan berterima kasih.

Kupandang sekeliling. Meja-meja yang beberapa saat lalu masih rapi, sekarang tiga diantaranya sudah terisi. Dan terus bertambah saat ritme hujan kian deras menggenangi jalanan. Entah sengaja mengunjungi kafe ini atau sekadar berteduh karena tak berpayung, hujan membuat para pelayan kafe tersenyum sumringah. Tapi kukira karena poin ke dua, ramalan cuaca hari ini tidak memberi peringatan. Termasuk aku, malah memilih warna cerah berpadu sepatu yang pasti jadi bubur jika menerabas hujan.

Namun, agaknya.. Ketakutan akan hujan tidak berlaku untuk seorang gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pandangku. Terpisah kaca kafe, aku melihatnya tersenyum sembari menutup mata. Satu tangannya menadah air yang jatuh dari tepi atap. Rambut yang terikat di setengah lingkar kepalanya, terpercik. Bahkan ia seolah sangat menikmati wajah basahnya. Baju memang belum kuyup, sedikit terlindungi satu meter atap kafe ini.

Aku mencoba menerka-nerka, apa gerangan yang sedang ia pikirkan?

Kuangkat kopi yang sedari tadi seolah menanti. Permainan piano ciptaan Enya yang kuhafal berjudul A Day Without Rain, mengalun merdu memenuhi langit-langit kafe. Membuat keramaian percakapan pengunjung terdengar samar. Atau barangkali telingaku terlalu asik dengan gadis di luar sana. Kuambil kamera pocket di saku jaket, berniat memotret ke-klasik-an wajah manis yang masih khusyuk menutup mata.

Persis saat fokus lensa pas dan hendak kutekan tombol untuk mengambil gambar, sesosok pria sekira 10 senti lebih tinggi darinya sudah berdiri di samping si gadis. Melakukan hal yang sama. Beberapa menit. Seperti ritual percakapan dengan hujan.

“Hujan tidak kemana-mana. Tepat di samping kedua kakimu, kemana pun kamu melangkah” meski aku sama sekali tidak mengerti, suara itu sayup terdengar. Entah dari mana asalnya.

Tak lama, sesosok pria menyudahi ritual dengan membuka mata dan menyimpan tangan di saku jaket. Memiringkan badan, tersenyum menatap gadis, dan pergi sebelum mata gadis terbuka.

Hujan mulai melambat, seiring ia berjalan. Hingga punggungnya tenggelam di antara gumpalan mendung, tak terdengar lagi tik-tak di atap kafe ini. Hujan, benar-benar berhenti.

Leave a Comment

*