Proposal Diri

Angin, aku sedang menghitung barisan tangis. Meski tak sebanyak kawanan hujan yang baru saja usai berfestival, bolehlah aku sedikit hiperbolis: genangan air lebih tinggi di hati dari pada tanah. Kau tahu kenapa?

Karena aku baru saja bertengkar. Dengan dia. Dia, Angin. Orang paling baik yang pernah kuharap jadi imam.

Ah, malu sebenarnya aku cerita. Jelas sekali aku ini anak sah dari generasi alay bin lebay. Yang jelas keduanya bukan orang tua kandung, ibu bapakku bahkan tak punya tampang -ay.

Tapi bagaimana lagi. Hasrat untuk mendeklarasikan ini sudah menendang-nendang. Persis seperti jabang bayi yang sudah di ujung ‘pembukaan’. Maka kulahirkan saja janin itu dengan nama “proposal diri”.

Jangan kau bayangkan ini semacam biodata yang kau ajukan pada seorang pria, Angin. Lengkap dengan segala informasi diri yang jujur kau tulis, maupun sengaja kau adakan agar dia lebih terpikat. Bukan, ini bukan proposal nikah sejenis itu. Kebetulan saja ada satu kata awal yang sama: proposal.

Sama juga isinya, semua tentang aku. Tapi tak sedikit pun kutulis ini dengan niat ‘memikat’. Jangankan pria, wanita pun tidak!

Kutulis ini, Angin, hanya untuk mengantisipasi. Agar tak terjadi lagi pertengkaran di kemudian hari. Dengan siapa pun. Siapa pun yang ingin jatuh hati dan berhasrat menjadikanku ‘teman hidup’.

Ah, tak apa kau tertawa. Tak apa kau menganggapku terlalu pe-de dan ge-er. Toh, aku pun tak bersedih jika memang tak ada yang mau jatuh hati padaku. Terpenting, aku sudah memberi rambu-rambu.

Aku ini, Angin, gadis kecil yang baru memasuki pintu gerbang usia dewasa. Usia, lho, ya. Kau sering dengar kalau usia tak menjamin kedewasaan kan? Nah!

Dan, dari segala informasi diri yang ingin kujembreng, intinya hanya satu. Perasa. Iya, aku ini sangat perasa. Silahkan kau tebak aku ini termasuk jenis karakter manusia yang mana. Yang jelas, kutegaskan kalau aku selalu memakai hati, insting, firasat, dan rasa dalam segala hal.

Tak heran kalau aku mudah marah, hingga dikenal tempramen, egois, atau gadis api. Tak heran kalau aku mudah menangis, sampai dibilang cengeng, kekanak-kanakkan, dan manja. Juga tak heran kalau aku mudah terhanyut dengan segala hal berbau rasa: sedih, kecewa, bahagia, dan kawan-kawannya.

Efek paling mujarab dari perasa itu, hati seperti tertusuk duri ketika mendapati kata kasar dari orang lain. Dan, ini bisa membekas selama aku hidup. Kata kasar level rendah sampai puncak, tetap sama rasanya.

Itulah sebabnya, Angin, kamu tahu apa yang paling kusuka darimu? Kelembutan.

Leave a Comment

*