Mengangin

Selamat pagi, Angin.. Maaf, semalam aku pulas. Lebih tepatnya tak hirau sapaan syahdumu dalam bayang semu -mimpi. Ah, saking syahdunya hingga agaknya lebih tepat kusebut: nakal. Betapa nakalnya kamu, Angin. Semalam aku terpaksa gopoh-gopoh turuni puluhan anak tangga saat teman membangunkan, atau mungkin bernegosiasi,”Damae, mati lampu. Mau tidur di bawah atau tetap di situ?”.

Kusebut nego karena alasannya memang hanya dua, persis seperti penjelasannya. Pertama, teman cemas barangkali aku kaget saat terbangun dengan keadaan kamar gelap. Kedua, bisa jadi ini prasangku saja, setidaknya teman tidak sendirian dalam gelap saat suaminya menghabiskan malam di luar -nonton klimaks Piala Dunia bareng kawan-kawannya. Tapi baik pertama maupun kedua, baru terpikir 5 menit lalu.

Yang jelas, aku bersyukur sekaligus berterima kasih; pada teman, terutama pada Tuhan. Kamu tahu, Angin, kalau aku tidak bangun pastilah tubuh ringkih ini sudah menggigil di lantai dua dengan jendela dan pintu kamar terbuka. Rupanya aku terlelap saat mengunyah baris demi baris cerpen di koran yang kutunggu saban Minggu. Bahkan niat tarawih sendirian selepas Isya pun urung kulakukan. Bukan sengaja tidak ke masjid, tapi hujan besar yang datang bersamamu ditambah tidak adanya payung, tentulah membuat langkahku linglung. “Kamu mau solat dengan mukena basah?”, ledek teman.

Saat kuterpaksa bangun, gontai menyeret selimut menjatuhi satu per satu anak tangga, aku tercenung menatap angka di wall hape putihku. Persis saat satu angka mengubah 9 menjadi 0. “Ya ampun, rasanya mimpiku sudah melalang buana tidak karuan. Ternyata baru jam 10 malam?”, temanku hanya tertawa kecil sambil memegangi senter, sementara tangan satunya asik mengorek isi lemari, mencari batang lilin-lilin ecil yang lupa ditaruh dimana.

Sapaanmu itu bukan hanya mengerjaiku, tapi juga para petugas PLN, Angin. Pasti kau lihat sendiri betapa cekatannya para petugas itu mencari sumber matinya aliran listrik di desa ini. Tak apa bila itu terjadi saat mentari masih menyisakan cahaya, di tengah kelamnya gumpalan awan. Tapi dalam keadaan gulita jelang tengah malam, terlebih kencangnya putaranmu mampu membuat pohon tumbang, pun air langit tak henti menerjang; agaknya membuatku khawatir. Kubayangkan jika salah satu petugas yang hendak membuat lampu kembali nyala itu ayahku, suamiku, kakakku, atau adik laki-laki semata wayangku, ikhlaskah aku membukakan pintu keluar?

Untungnya pikiran konyol itu langsung tertepis saat lampu ruang tamu, tivi, dan mesin kulkas tersadar seketika. “Alhamdulillah, petugas PLN berhasil mengatasi semuanya”, aku mendesah pelan. Meski tak berjeda lama setelahnya, semua kembali gelap.

Apa itu juga bagian dari sapaanmu, Angin? Entahlah.. bukan bermaksud abai, hanya saja aku tak ingin membuatmu merasa benar-benar nakal bila kulanjutkan berprasangka. Jadilah kupaksa memejam mata yang, jujur, baru saja hendak menyambar buku di lantai dua -juga mencumbu aroma tanah bermandikan hujan.

Ternyata aku salah terka. Memejam mata hingga jam sahur bertalu di bedug keliling, di speaker masjid dan mushola, tidak lantas membuatmu puas, Angin. Benarkah kau memang menungguku di halaman depan kamar?

Tak apa kau tak jawab. Kibasan handuk di larik jemuran dan kemerisik dahan pohon yang menjulang di tepi halaman itu, sudah menyiratkan. Getar atap plastik segetar pekur burung di kandang gantung, juga berkata senada.

Seketika bulu kudukku berdiri. Baru kali ini kau menyusup lewat sela jendela, padahal pintu jelas menganga. Wajahmu sendu beradu dengan mata sayuku. Kriuk lumpia dan menu sahurku seketika terhenti dari kunyahan, tercekat di tenggorokan. Reflek tanganku menyenggol air yang, untungnya, di balik tutup botol hanya bergoyang.

“Angin?”, sapaku bernada naik.

Kau masih terdiam, bersila di seberang piring yang sedang kupegang. Lamat-lamat kuperhatikan wujudmu -yang tak terlihat- itu. Garis matamu seolah berkata, aku rindu bersua denganmu.

“Maaf, lama tidak menyapa..”, suaraku memecah keheningan kamar. “Sungguh, aku tidak melupakanmu, Angin. Juga senja kita di bawah Kolong Langit sana. Pun pagi kita saat shift bulan digantikan mentari. Bukankah tanpa kulisankan pun, kau jelas lebih tahu bahwa aku juga selalu merindu bersua denganmu?”

Angin masih mengunci bibir. Mematung dengan tangan telengkup, memeluk kedua kaki yang ditekuk. Kuurangkan mulut melanjutan. Sudah hafal betul tabiatnya: jika dalam 5 menit dia masih belum ersua, berarti dia hanya ingin ditemani tanpa kata. Kuangkat sendok dengan nasi dipucuknya, kulumat pelan. Meski nikmatnya sayur kara mendadak hampa, kupaksa  menelan demi sirine imsak yang hampir dibunyikan.

Nguuung.. Nguuuuuung.. Nguuuuuuuuuuung…. Akhirnya.

“Alhamdulillah, waktu imsak telah tiba untuk desa Benda dan sekitarnya. Semoga puasa yang akan kita lakukan mendapat pahala dan diberkahi Allah SWT. Aamiin aamiin ya robbal ‘alamin..”, speaker masjid saling bersahutan dengan mushola. Ada yang dilanjutkan puji-pujian, tilawah Al-Qur’an, atau pengumuman jadwal pengajian yang lebih dikenal dengan sebutan “kuliah subuh”.

Setelah menenggak seperempat botol air mineral, kutepikan piring di tempat cucian. Lekas berwudhu dan menyambar sajadah di sampiran. Sementara Angin masih terdiam, aku sudah menyelesaikan dua rakaat Subuh, kembali menggantung mukena, mengibaskan selimut, serta menusukkan charger laptop di terminal pojok kamar.

Dan, saat laman dekstop terbuka itulah, aku tercengang. “Akhirnya namamu kembali mengudara.”, Angin mengangkat wajah, membuka mulutnya setengah. “Tapi udara hari ini sudah dikuasai oleh kebengisan dunia, dihirup untuk saling memaki dan membenci.”, dia mengusap peluh seraya menunduk.

“Bolehkah kumengganti ‘mengudara’ menjadi ‘mengangin’? Agar damai-mu tak sekadar nama, tapi membekas di setiap hati yang mendengarnya.”, kini mukanya berjarak satu senti saja dari hidung mungilku.

Sementara bola mata masih sulit berkedip gegara kelilip kemarin, aku terpaku menatap ekspresi wajahku saat ‘mengudara’ -untuk mengganti ‘on air room’- di wall laptop. Bukan hanya karena otak masih loading mencerna maksud Angin, tapi lebih dari itu seluruh syaraf di kepala bertanya-tanya: apa dengan ‘mengangin’ membuat suaraku mendamaikan setiap hati yang mendengar? lebih jauh, apa hanya ini makna sapaan Angin sejak semalam?

Leave a Comment

*