Mencari Kata #2

Sekali lagi pipiku merona, tersipu bercampur bahagia. Kau, selalu pandai mencipta kejutan istimewa. Bukan “mau minta kado apa?”, tapi “ini kado untukmu” sembari tersenyum tulus beromansa. Juga bukan “created by (namamu)”, tapi “copyright by (namaku)”; meski jemari lembutmu yang berkarya.

Bahkan dalam dahsyatnya pertengkaran, murkaku memuncaki batas sabarmu; kau justru menepi untuk berkonsentrasi. Konsentrasi memetik mahakarya semesta, lalu meraciknya dalam riasan artistik rumah kita. Dengan gagahnya kau bersua, “semoga mawar kembali mekar setelah angkara berpendar”. Dan, semerbaknya menyunggingkan senyum termanis di bibirku.

Amboi.. Kau seolah sedang mengajari bahwa, ketulusan itu diberi tanpa harus ditanyakan.

Gegabah, juga sering menyulut pasrah kala kenyataan tak seindah khayalan. Tapi kau, hanya menepuk bahu sembari tertawa. “Bukan salah petani jika tanamannya tidak subur. Juga bukan salah internet jika santri kecanduan nge-game online. Semua benda bergantung pada pemiliknya.”,  kelakarmu. Sama seperti manusia yang tidak bisa memilih akan lahir dari rahim siapa, menjadi anak pertama atau ke dua, bergantung Tuhan(pemilik)-nya.

Pun kenyataan dan khayalan. Bahkan meski keduanya bak bumi dan langit, selama masih ada asa diantaranya, bukan mustahil keduanya beriringan, berpelukan, menyatu, hingga tak terpisahkan. Dan, asa itu ada karena yakin. Yakin, hanya akan muncul jika mampu mengalahkan keraguan.

Aigo.. Bagaimana kau bisa begitu bijaksana?

Tentang teman-temanku, tak perlu kuuji lagi kesetiaanmu. Selalu saja kau siaga untuk mereka: kapan pun kuminta bantu, pasti kau bantu. Satu kesungguhanmu: mencinta berarti membuat pasangan menjadi diri sendiri, bukan orang lain, apalagi sosok yang kau kendali.

Bahkan -dengan menahan air mata, beberapa kali kau relakan aku bermain nyawa demi mereka. Bukan hanya nyawa yang terkandung badan, tapi juga sukma cinta yang tergadaikan. Dan, persis saat tubuhku terpeleset ke jurang, kau sambar secepat kilat. “Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu.”, hatimu kembali basah.

Jantungku seketika terhenti. Kata untukmu itu, kemana lagi harus kucari?

Leave a Comment

*