Mencari Kata #1

Sering kubertanya, bahkan sampai detik ini pun masih bertanya. Apa gerangan yang membuat kata enggan tertata saat hati bicara tentangmu? Sementara kau tahu, hampir semua tentang mereka bisa kubicara.

Kau pun sering bertanya, bahkan sampai detik ini pun aku belum menemukan jawabnya. Mengapa gerangan semua kata yang kuracik selalu saja tentang dia, tentang mereka? Sementara kata untukmu, tak satu pun kuretakan di elusan jelang mata terpejam.

Ah. Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Seolah berpikir, lalu tersenyum. Sudah ada jawabnya? Belum!

Aku hanya teringat beberapa adegan menggelikan. Saat semua orang marah, geram, bahkan merutuki gaya ‘putri solo’ku, kau justru ringan menguatkan: itulah seni menikmati waktu. Hingga tak satu pun tahan dengan lelet-nya gerakanku, kau tetap duduk manis menunggu -tanpa gerutu. Dan, pasti tersenyum manja menyambutku tiba.

Bahkan ribuan kali kuusir kau dengan sekasar-kasarnya kata, kau justru semakin maju. Mendekap erat, menjabat, lalu berbisik: aku tidak kemana-mana, kembalilah kapan pun kau mau, kasarnya kata hanya menutupi kelembutan hatimu.

Coba, kata apa yang mampu menjelaskan lapang dadamu?

Lagi. Saat bibirku, tanganku, tubuhku, gematar pascakecurian; juga otakku buntu terselubung ketakutan; semua orang panik dan berempati, bersimpati, sekadar simpati, ada pula yang ‘kelihatan’ simpati. Kau, meluncur dari ratusan kilo di pagi buta, sekejap menyelesaikan kegentingan tanpa banyak bicara.

Kegentingan itu seolah menjadi sign: selanjutnya hingga hari ini, jangan sampai aku megeluhkan kebutuhan apalagi meminta bantuan. Semua kau atasi dengan senang hati. Bahkan saat kutegaskan “itu bukan kewajibanmu”, lirih kau sua “aku pun tidak menganggap ini kewajiban, beginilah caraku mencintai”.

Oh, Angin! Kata apa yang pantas melukiskan kebaikan hatinya?

Yang tidak masuk akal, mau-maunya kau minta maaf duluan padahal aku yang selalu kekanak-kanakkan. Sudah jelas kau sedang meeting dan pulsa kering; tetap saja aku maksa minta dibalas sapa. Sudah tahu kau sedang pusing dan hendak rehat; tetap saja aku manja minta ditemani bercengkrama.

Memang, ada kalanya kau pasrah, apa mauku terserah. Sekali dua kali kau diamkan: saking muaknya atau justru enggan bertengkar. Tapi tetap saja, tidak sampai 3 hari, kau pasti menaklukkan segala cara agar aku kembali ceria. Bila perlu, semua mauku dituruti -termasuk mencium kaki.

Kalau sudah begitu, harus kubilang apa?

Juga, soal perjalanan. Jangan tanya berapa harga keamanan dan kenyamanan sebuah perjalanan, segala kedaruratan dan hal tak terduga pun kau lunasi jauh-jauh hari. Mulai perkara remeh seperti bersih-tidaknya toilet, sampai hampir lenyapnya tiket pesawat gegara terlambat berangkat (ke bandara).

Tentu, tentang rute perjalanan, dimana aku bermalam, apa saja yang kumakan di jalan, sampai apa buah tangan untuk kawan-kawan; sudah tersusun rapi jauh sebelum jejak menapak. Satu lagi, armada yang membawaku pulang harus lebih nyaman ketimbang berangkat, setidaknya bisa lelap setelah jauh bertualang. Meski armada yang kau tumpangi pulang pergi: jangankan nyaman, aman pun tidak!

Kalau sudah begitu, masih adakah kata yang pantas bersanding denganmu?

Leave a Comment

*