Meminang Angin

Saat mereka datang padaku untuk berkeluh, berkisah, menangis, tertawa, berceloteh, bercerita, atau sekadar ingin didengarkan tanpa disela; kaulah yang menampung air mataku tanpa mereka tahu, Angin.

Terima kasih telah mendengar semua jerit hati yang tak mampu kusua pada mereka. Menyimak semua cerita yang tak terkata. Menepikan jiwa yang gersang. Membalut luka yang bahkan, tak pernah kusadari, hampir saja membuat tubuhku diamputasi. Terima kasih.

Keabstrakanmu mengajariku bahwa yang kasat mata bukan berarti tak ada. Belaianmu mengingatkanku jika, cara menyentuh tanpa sentuhan justru lebih terasa. Dan, hadirmu menuntunku untuk membuktikan: ketiadaan adalah cara mencapai ada, cara menikmati bahagia.

Andai bisa, Angin, ingin kupinang kau jadi lelakiku saja.

Leave a Comment

*