Maha-siswi

Angin, kenapa ya, tiba-tiba aku merasa keberatan dengan ‘sandang’ mahasiswi? Maha-siswi. Siswanya Maha. Siswi yang Maha. Jika Maha merujuk pada kata ter-, paling, tinggi, agung, atau level sesuatu; yang intinya menerjemahkan kata ‘mahasiswi’ menjadi ‘siswi tingkat paling tinggi’, sepertinya sah-sah saja kalau aku keberatan.

Meski, toh, keberatan itu tak mengubah apa-apa. Tak mengubah stabilitas negeri kampus, juga kampus negeri. Tak mengubah sebutan civitas akademika di mall ilmu. Tak mengubah sebutan pada siapa pun yang terdaftar sebagai pemburu gelar “S” -dari es doger sampai es teler-. Orang tetap akan menyebutnya ma-ha-sis-wi.

Paling tidak, aku sudah menjlentrehkan kalau aku keberatan. Ketika kulihat penyandang status maha-siswi tak memiliki satu pun buku mata kuliah di lemarinya, hatiku remuk. Ketika mendengar obrolan maha-siswi di kantin hanya seputar rencana hang out wik en besok, film box office terbaru, fesyen paling hits, jadwal konser artis korea, sampai kedai ramen yang baru buka; hatiku marah.

Ketika mendapati tugas makalah maha-siswi yang full comotan dari Mbah Google, Tante Wiki, bahkan tanpa sumber link, hatiku hancur. Ketika mendengar bisingnya perpustakaan maha-siswi yang disemi-fungsikan sebagai tempat rumpi gratis, hatiku teriris. Terlebih kalau gadget maupun laptop yang terhubung wifi gratis di perpus hanya dipakai untuk update status dan melontar komentar di sosmed, hatiku basah.

Apalagi dua topik ini: cowok dan galau! Mau diputar 180 derajat, arahnya dari Timur ke Barat, atau vertika-horizontal pun, tetap tak ada habisnya. Selalu berhasil bikin maha-siswi terlena. Bisa begadang semalaman demi memenuhi nafsu pelampiasan galau sampai habis sekotak tisu. Bisa ketawa saban malam ditambah saban hari kalau hati sedang terserang virus merah jambu. Melambai pada tugas kuliah sambil bilang, “Nanti ah, lagi badmood”. Atau saking bahagianya sampai lupa kalau besok presentasi Fisika.

Duh-duh-duh. Maha-siswi oh mahasiswi. Mau jadi apa kalau selesai kuliah nanti?

Hatiku tak tersisa, Angin. Hancur lebur jadi debu. Terlebih ketika menemukan seseorang yang demi bisa masuk perguruan tinggi saja harus mbabu 3 tahun, harus berdebat panjang dengan orang tua yang kekolotannya menganggap kuliah itu nggak ada gunanya, bahkan harus rela menanggalkan masa-masa manis bersama kawan demi menambah tabungan saban bulan.

Kujumpai pula seorang ayah yang kesehariannya menafkahi keluarga dengan menjual rokok. Di jalanan. Di lampu merah. Dan tahun ini, demi anaknya bisa merampungkan kuliah, dia rela berteriak lebih kencang dari biasanya ketika manawarkan dagangan. Dia rela lebih lama berpanas-panas atau kehujanan di jalanan. Rela lebih hemat makan siang agar bisa menambah tabungan. Bahkan tak sedikit pun ia takut untuk mampu memikul ke-maha-siswi-an anaknya.

Tapi sepertinya, Angin, semua ungkapan tadi sia-sia. Toh, jangan-jangan aku juga tak beda dengan maha-siswi yang kujlentrehkan tadi. Hanya membebani orang tua yang kian renta. Ckckckc…

Bgaimana denganmu, maha-siswa?

(1) Comment

  • abu ikrimah
    14/12/2014 at 2:57 pm

    cobalah untuk memahami dn menjiwai seorang mahasiswi

Leave a Comment

*