Kolong Langit

Bila kebanyakan manusia mengagumi keangkuhan gunung, kecantikan laut, kesejukan hutan, ketenangan danau, keramahan pantai, keindahan bukit, atau kemolekan sungai. Ada juga yang menikmati keterbukaan taman, keasyikan wahana permainan, kelezatan pasar makanan, kemegahan hotel berbintang, keramaian swalayan, hingga hingar bingar dunia malam. Aku justru memilih Kolong Langit untuk menyimpan semua kenangan.

Terkesan konyol?

Tidak. Bagiku Kolong Langit seperti perpustakaan hati. Memiliki banyak lemari yang ber-rak dan ber-laci. Disanalah kususun rapi semua memori tentang jalan cerita kehidupan. Masing-masing lemari kuberi nama Galau, Sakit, Kecewa, Rindu, Cinta, Bahagia, Hipotesa, Uji Kehidupan, Perjalanan, Terapi Jiwa, Pemancar Hati, dan nama-nama lain yang (barangkali) tak seorang pun mau mengerti.

Perpustakaan itu kubuka saban fajar menyingsing dan ketika kawanan burung mengantar mentari ke peraduan. Selebihnya tetap kugembok agar bengis dunia tak bisa mencurinya. Hanya saja, kubiarkan hujan menjadi tirai jendela -berkawan Angin yang juga pustakawan sekaligus teman paling setia. Tak lupa kuletakkan LCD di pojok ruangan, terhubung dengan Pemancar Hati untuk merekam dan menayangkan kembali serpihan slide yang kadang terabaikan.

Soal lokasi, aku tak tahu persisnya Kolong Langit ada dimana, di jalan apa, nomor berapa. Satu hal yang pasti, Kolong Langit seakan terbuka begitu saja ketika hati ini basah lantaran air matanya pecah. Itulah saat hati duduk sama rendah dengan angin. Itulah saat keduanya mengkaji apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Itulah saat sumber literasi diadu dengan realita yang dilihat, didengar, dirasa, dan tersembunyi. Hingga ditemukan sebuah kesimpulan bijak lagi arif, untuk memaknai skenario kehidupan.

Dilihat dari luar, Kolong Langit tampak rata dari kejauhan. Persis langit-langit rumah berwarna putih kebirumudaan. Saat kubuka pagi hari, hangatnya sinar yang merambat naik dari arah jarum kompas Timur seakan menyapa, “Semangat Pagi!”. Menyulut energi yang mampu menghadapi beban seberat apa pun, meski perut sama sekali belum sarapan.

Pun ketika senja tiba, siluet mentari memancar ke segala gradasi mega. Kuning keemasan berpadu jingga, putih, biru muda; perlahan menuju kegelapan. Semua warnanya selalu berhasil membuat Angin tersihir untuk memotretnya. Sambil terus berceloteh tentang semua yang ia temui sepanjang hari, Angin pasti menyisipkan sindiran yang berlaku universal -untuknya juga untuk semua manusia (termasuk aku).

Namun semakin didekati, Kolong Langit kian nyata dalam fantasi. Bila dilukiskan, dari atas kanvas tergores warna biru muda kehitaman, sekira setengah dari sepertiga bagian; dilanjutkan biru tua kegelapan hingga penuh sepertiganya. Kuas abu pekat melanjutkan sepertiga kedua, larik demi larik terbentuk tak beraturan seperti busur yang terpanah dari empat penjuru angin; mengarah pada titik tengah dan berhenti sekira masing-masing 5 senti dari ujungnya. Membentuk lingkaran, menyerupai sebuah Kolong.

Dari sebalik Kolong itu terpancar cahaya keemasan, dicampur sedikit kuning dan jingga yang menyebar ke batas sepertiga atas dan bawah. Perlahan merasuk dan membentuk sebuah jalan. Seakan pancaran itulah yang menjadi petunjuk untuk menemukan Si Kolong. Hingga sisa sepertiga akhir menyentuh atap-atap rumah dan apa saja yang tampak dibawahnya. Sepintas sentuhan itu menandakan betapa dekat si atap dengan Kolong. Tapi sejatinya keduanya tidak pernah benar-benar saling menyentuh, walau tangga pertama Kolong Langit diintip dari jauh.

Konon, 6 tangga di atasnya tak mampu dijangkau manusia karena itu wilayah kekuasaanNya. Bahkan meski kupakai pesawat terbang yang mampu mengelilingi dunia, tetap saja hanya bisa meraba gumpalan awan. Menembus secercah sinar yang memendar dari sela-sela gumpalannya. Andai ada angkutan jurusan Langit ke-7, mungkin aku bisa menemukan Pencipta Kolong Langit.

Tapi.. sekalipun aku sangat penasaran dengan ujung pangkal Kolong Langit, aku tidak ingin mencari dan menemukannya dalam waktu yang bersamaan. Cukuplah kunikmati aura keagunganNya saban pagi dan sore, dengan Kolong Langit yang terimajinasi di hati. Maka aku bisa menyusun semua memori tentang jalan cerita kehidupan; dengan teliti dan hati-hati. Tentu agar isi seluruh lemari di perpustakaan bisa kupelajari satu per satu, kupahami dan kupraktikkan setulus hati.

Satu hal yang paling kusuka dari Kolong Langit: ia selalu mendengar apa yang kukatakan. Sekasar apa pun, sekonyol apa pun, semenyebalkan apa pun, dia tetap mendengar. Kubicara soal kemalangan nasib, kebodohan ide, kegagalan langkah, kegusaran hati, hingga kepahitan rasa, semua disimak tanpa kecuali. Ya, meski aku tak mengerti apa feedback yang ia beri, tapi ekspresi tatapannya menyiratkan bahwa Kolong Langit mengerti semua yang kukatakan. Dan, Angin menegaskannya.

Barangkali, begitulah cara Kolong Langit membuat kata-kata seakan berjiwa.

Foto: dokumentasi pribadi by Damai

Leave a Comment

*