Ketakterbatasan Kemungkinan

Angin, mari kembali berceloteh tentang sesuatu yang, tampaknya, agak kurang disukai kawan-kawanku. Aku selalu saja kehabisan daftar nama setiap kali akan membahas ini. Si Ini, ah, no comment. Si Itu, singkat padat jelas komentarnya: kurang menarik. Si Anu, hm, belum selesai kalimatku, sudah dibelokkan ke persimpangan. Kira-kira begini nasib orang yang sok dewasa.

Dewasa? Haduh, tahu apa aku soal kata itu. Jangan muluk-muluk. Aku hanya ingin bicara soal kunci baru untuk pintu usang di kamarku.

Jika selama ini sering kau dengar, “Satu-satunya kepastian di dunia ini adalah perubahan”, sore ini kudapat satu saudaranya. Mirip, sih. Tapi bukan berarti kembar. Bahkan kembar siam pun pasti memiliki perbedaan. Yang kumaksud itu, “Satu-satunya ketakterbatasan adalah kemungkinan”.

Apakah kau punya tolak ukur kemungkinan, Angin? Lalu apa satuannya? Baku seperti senti hingga kilometer-kah? Atau tak baku layaknya ‘sepanjang jalan kenangan’? Pinjamkan padaku jika kau punya. Sungguh, aku penasaran, berapa meter panjang kemungkinan.

Sayangnya jika benar kau punya, aku kecewa. Bukan saja kunci baru yang kubilang tadi langsung minta diganti. Tapi juga sia-sia kuhabiskan energi untuk menemukan simpul itu di tengah merayapnya kota Mbandung sesore tadi.

Jika benar kemungkinan itu bisa diukur, sepertinya aku akan belajar berhenti kesal pada provider yang beriklan “kartu internet unlimited 3 gb”. Tak lagi bersungut-sungut bilang: Unlimited kok 3 gb! Biarlah “unlimited” dan “3 gb” tetap bersanding dengan wajah tanpa dosa.

Tapi jika ada benarnya kubicara kemungkinan yang tak berbatas, mari kita lanjutkan ketakterbatasan kemungkinan.

Aku teringat perjalanan ke Bali beberapa waktu lalu. Sudah kukisahkan, betapa segala persiapan matang sudah dibereskan beberapa bulan sebelum keberangkatan, mendadak berantakan hanya karena aku sakit tiga hari sebelum pesawat landas. Tak heran jika saban bepergian aku selalu menepuk bahu, meyakinkan diri: there’s no traveling without surprizing. Kalau sesuai rencana, justru bukan perjalanan namanya.

Sebelum mulai hingga perjalanan berakhir dan setelahnya, adalah tarian jutaan kemungkinan yang tak pernah bisa diterka.

Oh, ya. Aku punya sahabat yang baru-baru ini diringkus kemungkinan. Dulu kukira dia akan jadi pengantin pertama sekaligus paling bahagia diantara semua kawan di kelasku. Kekasihnya tampan, baik, cerdas, dan kaya. Sempurna di mata semua wanita. Tapi, apa daya. Kemungkinan memang tak kenal siapa dan bagaimana. Apalagi kapan dan mengapa. Ia hanya tahu apa: apa saja yang bisa dibolak-balik oleh kemungkinan.

Jelang sempurna sahabatku bahagia, tiba-tiba impiannya kandas hanya karena orang tua baru akan merestui jika dia lulus kuliah. Dan, sayangnya, sang kekasih pujaan mundur perlahan. Entah karena tak sabar kawin, atau derajat kesetiannya hanya seujung jari kucing (padahal hanya butuh 1 tahun untuk sahabatku lulus). Yang pasti, berminggu-minggu aku jadi peri penghibur untuk menghentikan tangis sahabatku.

Ah, aku bicara ini seolah hatiku baik-baik saja. Gagal nikah, sahabatku setidaknya masih punya harapan untuk mendapatkan hati kekasihnya kembali. Sementara aku? Bahkan belum sempat kumiliki hati yang kucintai, dia sudah dimiliki orang lain. Coba kau tebak, kemungkinan apa yang bakal terjadi denganku?

Tapi jangan sekarang kau jawab, Angin. Biarlah kemungkinan itu mengembara. Sampai tepat saatnya kemungkinan itu menunjukkan sendiri kuasanya. Aku tak ingin kau mengira-ngira apalagi meramalkan. Melacaki kemungkinan memang mengasyikkan, tapi ketika kita sadar bahkan ending dari kemungkinan adalah kebelumtentuan, bahkan yang sudah tentu pun bisa menyublim jadi tak pasti, bisa jadi sedikit mengecewakan.

Kecuali kita selalu ikhlas untuk membalas lambaian “belum tentu” sembari menyingkap tirai yang membatasi pandangan mata.

Leave a Comment

*