Jalan Konyol

Wajah kusyut (pakai ‘y’) belum dibasuh sama sekali, mata kreyip-kreyip dengan lingkaran hitam kian lebar, bau acheem belum mandi, belum gosok gigi, hanya cuci tangan dan kaki (demi menyentuh sarapan) yang sudah kulakukan; usai perjalanan konyol ini.

Saking konyolnya, begitu selesai makan, aku langsung buka laptop. Tak sabar mengabadikan moment menggelikan yang berlompatan di jalan. Ibu saja sampai ‘ngakak abis’ begitu dengar anaknya baru sampai Bandung dengan durasi 3x lebih lama dari biasanya.

Iya, aku kebablasan. Naik travel Minggu jam 6 sore, harusnya tiba di Bandung sekitar jam 12 malam. Tapi dasar konyol, aku ketiduran dan baru bangun jam 2.30 pagi. Posisi bus sudah melintasi Bekasi. Tidak lama lagi akan sampai tujuan akhir, Bandara Soekarno-Hatta.

Shock? Pasti.

Mengambil perjalanan malam itu demi bisa istirahat sebelum Senin pagi datang. Eee.. Malah nyampe kosan jam 9 pagi. Kalau diukur, durasi 15 jam di bus itu sama saja menempuh Jawa-Lampung! Apalagi sehari sebelumnya aku duduk manis di mobil 7 jam tujuan Bandung-Cilacap (juga dengan sederet kekonyolan yang belum kuceritakan). Pegalnya perjalanan darat Bandung-Bali 24 jam saja masih terasa, 3 hari sebelumnya.

Kebayang, kan, betapa empetnya ini pantat? Resleting tas sampai jebol (padahal dia teman sejati selama perjalanan 3 tahun terakhir). Hidung berdarah makin parah, sensi sama udara di jalan.

Untung saja kelakar ibu agak masuk akal, “Ketiduran itu kan nikmat Allah, disyukuri saja. Yang penting sekarang sudah sampai tujuan dengan selamat”. Seorang teman menambahkan, “Lumayan sudah lihat bandara Soe-ta, trip berikutnya lebih hemat via sana.”

Lebih syukur lagi karena tubuh ini masih mampu melahap sarapan setelah lidah beku di bawah AC puluhan jam.

Aaaahh.. Benar, memang. Bukan perjalanan namanya kalau tidak ada kejutan!

Saatnya beranjak, setumpuk ‘kata-kata’ lain sudah menanti menari dengan jemari. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Leave a Comment

*