Hujan Lamunan

Aroma debu dan masa lalu bercampur dalam peluhku

Dalam,

Hujanku yang merindu hujanmu

 

Ini genap satu masa kau memberai

Ini ganjil dua masa kau mengurai

Ah, bisik angin mana lagi yang harus kudengar?

Jerit mimpi apa lagi yang harus kuerang?

Wajahmu kian masa kian lekat

Disetiap jantung hati yang mengejar bayangmu

 

Kau bilang sayang itu tidak luntur

Kau juga bilang rasamu tak pernah kendur

Tapi apa dayamu?

Apa pula nafsumu?

 

Huhf.. Aku bosan. Sepertinya,

Aku mulai gundah

 

Jika kau melihatku hari ini,

Melihat jemariku menyentuh angin kita di pelupuk senja

Melihat manismu ini, bermanja hujan kita

Cukuplah sejukkan resahku ini, kasih..

Itu bukti paling cukup untuk memanggilku, memberitahuku

 

Bahwa, benar..

Kau abadi di hati ini.

 

(2) Comments

  • rifki
    02/10/2013 at 1:54 pm

    puisinya bagus.

    makasih mas rifki, 🙂

  • Fakhri Muhammad Rabbani
    27/12/2013 at 7:20 am

    sepertinya puisi puisi damai banyak tentang hujan, Hujan kenangan, hujan lamuan, lalu hujan apa lagi,,,
    tapi top deh buat puisi puisinya damae, I like it….

Leave a Comment

*