Hingga Entah Kapan..

Tak mengapa. Aku masih sanggup menahan. Sebesar apa kebahagiaanmu bersamanya, sebesar itu pula aku kuat menanggung hati. Yang patah, hancur, bahkan remuk. Bercecer di linangan yang menjelma lapang dada.

Bukankah, mereka yang pernah merasa sangat mencintai seseorang, harus siap menikmati sakit yang teramat dalam?

Tak apa. Sungguh. Kuhabiskan detik dalam pencarian bayangmu. Meski kudapati seringkali senyummu menipu. Toh, aku hanya perlu melihat senyummu, bukan tipuan. Sekali sepekan, sekali sebulan, bahkan sekali setahun sekalipun; cukup kiranya memperpanjang napasku.

Bukankah, mendoakan kebahagiaanmu adalah satu-satunya hal yang kubisa, sekaligus bukti bahwa, sejatinya cinta tidak pernah menyakiti?

Karena ketika tak kutemukan senyummu hari ini, kudoakan esok akan kujumpai. Bila besok masih tak ada, barangkali besoknya lagi. Hingga entah kapan.. Dan saat kudapati, itulah kebahagiaanku.

Leave a Comment

*