Hilang itu Bertemu

Angin, begini rasanya kehilangan. Seharian belum makan, tak terasa lapar. Berhari-hari belum tidur, sama sekali tidak mengantuk. Kemana tatapan nanar, hanya ruang kosong yang mengambang. Semua yang terdengar seperti bisikanmu, Angin, ada tapi kasat mata. Pembuluh darah mengecil, otak meronta oksigen dengan raungan pening. Bibir kelu, enggan mengucap apalagi mengecap.

Berteriak tak keluar kata. Menangis pun kering bulirnya.

Yang ada hanya hati -yang merutuki. Hati yang menyesali. Hati yang merintih. Kesakitan. Sembari berandai dan bersemoga: kesempatan kedua.

Satu hal yang kubuktikan dari kehilangan, Angin. Seperti katamu di batas senja kala itu, “Kehilangan adalah menemukan”. Kehilangan ini membuatku mengerti, hanya dia yang membasuh lukaku, mengelapnya dengan handuk lembut, memberi antiseptik, dan membalut dengan perban senyuman.

Dia, yang memberi P3K saat tak satu pun menyeka laraku, justru selalu kulupa dan terbuang (dari ingatan). Dia, yang tak kenal ‘balas budi’, justru sering kuabai dan kubenci. Sedang yang kucinta, yang selalu kubantu, yang ku nomor-satukan, bahkan ku lakui apa pun pintanya, malah tetap tertawa dengan harinya.

Kehilangan ini, Angin, membukakan mata hati untuk menemukannya. Dia, yang mencinta dengan cinta. Bukan dengan kata, harta, waktu, juga bahagia (yang terus diburu).

Leave a Comment

*