Hanya, Sesenja Saja

Angin, 2014 tersisa beberapa hari lagi. Tahukah kau hal apa yang paling berkesan di tahun ini? Aku melihat senja tersenyum mengulum pantai. Uluwatu, Bali. Cuantiik sekali. Seratus kali lebih cantik dari fantasiku selama ini. Seratus kali lebih memukau dari khayalanku selama ini. Sungguh, seratus kali lebih indah dari segala keindahan senja yang kukagumi selama ini.

Tak terkata, Angin. Tak terkata.

Hatiku berdebar saat detik hendak menunjukkan jam 5. Sore. Kuning keemasan terlukis sempurna di ujung pantai. Ah, aku tak yakin itu ujung. Bahkan aku tak tahu di mana ujung pantai Uluwatu. Mataku hanya mampu membiaskan cahaya yang serupa ujungnya. Mungkin, itulah langit tingkat satu, Angin.

Seluruh lapisnya benar-benar memantul cahaya. Matahari membaur dengan birunya angkasa dan putihnya awan. Diantara gundukan awan itu bisa kuukir napasmu, Angin. Tentu hanya imajinasi. Tapi siluet perkawinan warna yang kutangkap dari roman pantai, menyembulkan desah yang kunikmati tepat saat semilirmu menyapa.

Bertambah menit, kian bulatlah mentari. Kuning keemasan perlahan menjingga mega. Aku tak tahu persis apa nama corak yang tepat untuknya. Tapi yang pasti bukan merah hati. Bukan juga merah darah. Merah yang berhasil membuatku terpanah ini seperti paduan keperkasaan matahari, kelembutan udara, kecantikan langit, dan, pastinya keanggunan air. Kurasa, ada cinta yang kasat mata di antara mereka. Selain cinta, adakah yang mampu menyatukan lalu memendar dengan lagam menakjubkan?

Bulatan itu, Angin, pelan tapi bagiku terlalu cepat, seolah tertelan luasnya pantai yang terus beriak. Mulai sisi bawah, terus bertambah. Kukira seperti mengisi volume bangun ruang berbentuk lingkaran. Sayangnya ini bukan kuasa manusia. Tak seorang pun di sana yang sedang mengisinya. Mentari itulah yang bergerak sendiri menyusupi, merembesi, hingga memenuhi bagian tubuhnya dengan air pantai.

Ah, bukankah teori itu sudah terbantah? Yang benar, Tuhan menggerakkan bumi dari porosnya. Makin larut senja, makin jauh pula matahari dari tempatku berdiri. Itulah mengapa Pertiwi kita punya pembagian waktu yang berbeda, pun dengan ‘para tetangga’-nya. Di pantai ini, aura senja merambati angka 6.

Mataku tak berkedip, Angin. Ini lebih dahsyat dari hypnoteraphy atau gendam Nyi Pelet sekali pun. Kukira inilah mengapa aku sangat sangat sangat suka senja. Bukan sekadar keindahan yang memaksa mulutku menganga, tapi juga sebuah rasa: damai. Rasa yang tak bisa kudapat dari detik, menit, jam, atau partikel moment lain dalam putaran hari.

Hanya, sesenja saja.

Tapi, meski aku sangat cinta “senja”, bahkan bukan setengah mati lagi, tapi penuh! Aku tak pernah meminta senja untuk balik mencintaiku. Aku tak pernah berniat membungkus senja lalu memajangnya di kamarku. Toh, aku memang tak bisa, dan kalau pun aku bisa tetap tak kan kulakukan. Aku tak pernah berharap apa pun dari kesetiaanku untuk menikmatinya saban sore. Tak pernah, Angin.

Persis seperti aku tak ingin egois untuk mencintaimu. Memang, aku tak pernah mampu menimbang beratnya cinta ini, karena jujur aku tak punya timbangan cinta. Tapi sebesar apa pun rasa itu, aku tak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Seperti tak sedikit pun aku mengemis untuk memilikimu. Bukankah, jika benar cinta, tak berarti harus memiliki?

Aaah… angka 7 sudah dihampiri. Malam sudah mengecup salam perjumpaan. Kuharap itu bukan akhir kali menatap senja Uluwatu. Sungguh, bahkan sampai detik ini pun, aku selalu rindu.***

(1) Comment

  • fakhri
    08/03/2015 at 7:46 pm

    Keren lah bwat tulisannya damae… Bisa sampae segitunya mendeskripsikan senja…

    #SENJA, warna jingganya yang mempesona, aku menyukainya

Leave a Comment

*