Dik, #3

Ah, iya. Aku lupa. Ada yang belum kubersihkan. Kitab-kitabmu, Dik. Kubariskan rapi di rak paling atas. Dari kanan ke kiri, berurutan mematuhi tinggi badan (kertas).

Akhlaqul Banin dan ‘Ibadatul Fiqqiyah -bersama kitab-kitab yang sama tingginya, ada di sisi paling kanan. Menyusul Ta’limul Muta’alim, Nurul Yakin, Tadhib, dan Tazkiyatun Nufs; beda beberapa senti saja (tingginya).

Paling belakang, hampir sama desain cover dan jenis kertasnya. Orang kebanyakan lebih sering menyebut Kitab Kuning. Tentu karena warna kertasnya memang kuning. Meski judul kitab dan isinya semua beda tema. Al Jurumiyah, Al Bajuri, Riyadhul Badi’ah, dan masih banyak lagi.

Semua nama yang kusebut tadi, Dik, jelas belum ada sepersepuluh dari kitab yang kau punya. Kitab yang sudah kau kutui selama enam tahun. Tiga tahun di Jawa Tengah, selebihnya kau habiskan di Jawa Barat.

Dik, mengaji kitab sebanyak ini, tak terbayang betapa luar biasa ilmu yang kau punya. Tentang Fiqh saja lebih dari lima kitab. Juga Akhlaqul Banin yang dipilah kajiannya: akhlak anak sejak kecil, remaja, dewasa, hingga nanti ‘tiada’.

Belum lagi ilmu falaq, faroid, filsafat, sejarah islam, kisah nabi. Pun sederet kitab Kuning yang kau kaji saban hari selama Ramadan. Bahkan terjemahan Al Qur’an yang jelas terurai dalam Jalalain, sudah pernah kau lalap semua.

Tentu tidak murah, Dik, harga yang kau bayar. Jika menyelami samudera (air) butuh oksigen agar kau tak kehabisan napas, maka menyelami samudera ilmu butuh lebih dari sekadar membuatmu tetap bernapas. Tapi juga mampu tinggal di sana sempai purna masanya.

Sejak lepas usia 12, tanganmu sudah terlatih mencuci pakaian sendiri. Makananmu, tidak lagi disuguhi apalagi disuapi. Kau harus beli sendiri, makan sendiri, bahkan kadang harus menurunkan gengsimu untuk utang; bila dompet benar-benar kering kerontang.

Tidurmu lebih mengenaskan. Jangankan kasur empuk atau springbed tinggi. Kau cukup lelap di atas tikar tanpa bantal. Malah lebih sering menggulung sarung, kau nikmati mimpi seperti kepompong menanti sayap kupu-kupu -seraya berseri.

Saban hari, kau berangkat sekolah tanpa segelas susu kesukaanmu. Tak ada seragam yang disiapkan, sarapan, berpamitan, lalu bersepeda dengan kawan; tidak terlambat saja sudah untung-untungan. Pe-er sudah dikerjakan, buku tidak ada yang ketinggalan; itu sudah cukup aman. Iya, kan, Dik?

Soal jadwal harianmu, Dik, ah, hatiku selalu pilu bicara itu. Jam 3 dini hari sirine sudah mengaung, menghentak jantung. Pertanda kau dan semua kawanmu, harus antri mandi sebelum air tak mengalir. Paling lama 90 menit setelahnya, dudukmu sudah rapi di shaff masjid yang dekatnya sekira 3 menit jalan kaki dari asrama.

Pengajian Al Qur’an dimulai setelah subuh usai. Tanpa jeda, satu kitab lagi menanti untuk dikaji. Hingga jarum pendek persis di atas angka 7, baru kau bisa antri (lagi) membeli makan. Sayang waktumu tak lama, 15 menit harus kau bagi dengan ganti baju seragam, menyiapkan buku pelajaran (sekolah), dan tentu saja, sarapan.

Gedung sekolah memang bisa ditempuh tanpa peluh. Cukup berlari satu menit saja. Tapi satu kali saja kau telat, Dik, jangan harap bisa menyantap pelajaran pertama. Paling ringan, kau harus berdiri di bawah tiang bendera. Meski itu tak ada apa-apanya dibanding ta’ziran telat jama’ah atau mengaji: dipecut lalu dipajang di depan komplek asrama putri.

Gema adzan dzuhur menjadi penanda berakhirnya jam sekolah. Usai solat dan sejenak beristirahat, kegiatanmu tentu dilanjut lagi. Disaksikan mentari yang, perlahan tapi pasti, bergeser ke barat, terbenam, berganti malam. Paling cepat setengah sepuluh malam barulah lampu temaram, tutup buku tutup kitab; saatnya lelap.

Begitu putaran siklusnya dengan semua peraturan yang ada. Peraturan yang, harus kau patuhi tanpa kecuali. Bukan hanya malaikat tak kasat yang mencatat semua amal. Tapi juga pasukan keamanan yang siaga mengintai dan menghukum sekecil apa pun kesalahan.

Aku ingat, Dik, rambutmu pernah digunduli. Tak berani kau tunjukkan sendiri memang. Teman-teman (juga mata-mataku) yang bilang. Beberapa kali kau tertangkap pasukan kemananan: sedang merokok di warung, main play station di luar asrama, hingga kelayapan tanpa ijin satpam.

Bahkan jejakmu bercerita, kau pernah masuk daftar pencarian (untuk tidak menuduh buronan). Masuk Kobong ke-obong. Kerja sambilan ke-teteran. Diberi kebebebasan, kau kebablasan.

Huhf.. Dadaku mendadak sesak, Dik.

Andai kitab-kitabmu ini bisa bicara, tentu mereka tahu apa yang sebenarnya kau rasa. Hingga ‘harga’ untuk segudang ilmu itu harus berlubang, berliku, licin, penuh onak dan duri. Ataukah, memang kerusakan jalan itu kau cipta sendiri?

Satu hal yang kuyakini, Dik. Namanya tanaman, pasti ada saja hamanya: tikus, wereng, ilalang, belalang, dan kawan-kawannya. Tak heran bila tak semua tanaman berbuah sama. Tapi tetap saja, Dik, menanam padi tak mungkin panen jagung.

Itulah yang membuatku tetap percaya, sebanyak apa pun hama yang menggrogoti nuranimu, seliku apa pun jalan yang kau lalui, kau tetaplah kau, Dik. Entah kapan waktunya, wujud aslimu pasti kembali.

Leave a Comment

*