Dik, #2

Mengelap foto tampanmu di lemari, mataku mendadak basah, Dik. Sungguh, benarlah kata almarhum buyut kita, romanmu serupa rembulan di belah dua. Kulitmu lebih halus dariku, gadis yang setahun lebih tua.

Hidungmu mancung mincis, necis dengan lesung pipi yang terlihat saat kamu meringis. Juga dua bola matamu itu, bahkan lebih indah dari pelangi selepas karnaval hujan.

Dik, masih jelas sekali dalam memori, kau sangat mengagumi kostum polisi. Kekaguman itu pula yang memaksamu meminta ibu untuk membelikan satu. Kau kenakan persis di hari terakhir masa TK-mu, abadi dalam bingkai yang sedang kugenggam ini.

“Kalau besar nanti, aku ingin jadi polisi”, katamu saat kau bangga memamerkan kostum itu. Sembari meluruskan lengan sejajar bahu, kau miringkan telapak tangan dengan ujung jari di pelipis. Lamat-lamat kulihat lagi dari ujung topi hingga kaki, oh, gagah nian polisi kecilku ini.

Masa kanak-kanak kita, Dik, selalu dibilang seperti anak kembar. Apa yang kamu punya, aku harus punya. Apa yang aku beli, kamu harus beli. Untungnya kamu tidak ingin mencoba rok pendekku, aku juga tidak minat memakai celanamu.

Untungnya lagi, aku berhenti minum ASI sejak kau masih berupa gumpalan darah. Agar kau bisa menikmati gizi terbaik itu hingga kau bosan sendiri. Meski kebosanan itu baru kau sadari saat usia sudah setahun lebih tua dari balita.

Kau masih ingat, Dik? Sekerumunan orang mendadak tertawa melihat polahmu: kau menangis gegara jatuh dalam lomba lari TK lalu langsung diam begitu diberi ASI? Sejak itulah aku bertekad membayar kekalahanmu. Benar saja, Dik, aku genggam piala juara umum di kantor kecamatan; mengalahkan finalis pelari cilik yang, ternyata laki semua.

Dik, andai hari ini kita masih punya sepeda, ingin sekali kuulangi masa itu. Masa bersepeda saban sekolah dan diniyah, saban keliling desa bersama kawan kecil kita, saban kemana pun langkah kaki menapaki fantasi mimpi.

Fantasi itu, Dik, pernah orang tua wujudkan spesial untukmu seorang. Kuingat perjanjianmu kala itu: aku mau di-sunat asal diiringi kuda putih yang gagah dan tinggi. Tanpa pikir dua kali, bapak menjual semua yang dia punya untuk menyewa drumband dan 10 kuda, 1 diantaranya adalah kuda yang kau minta.

Bahkan berbulan-bulan kubantu bapak melatihmu dan 5 kawanmu membaca juz ‘amma bernada. Orang kampung kita menyebutnya “Khataman”, lantaran tradisi ini bisa dilakoni kalau kau sudah purna mengaji (Al Qur’an).

Dalam keluarga kita, peristiwa itu sekaligus penanda bahwa, seusai acara kau hendak menempati rumah kedua. Rumah yang akan kau tinggali untuk merajut mimpi dan menggapai ilmu setinggi apa kau mau. Rumah itu, tentu tanpa bapak, ibu, juga aku. Tapi di sana, ribuan kawan seperjuangan bisa jadi pengganti keluarga.

Dan, hingga saat kakimu mengambang di daun pintu, aku hanya bisa bergumam, “Lanjutkan. Jejakmu adalah pena yang mengabarkan pada dunia bahwa, kau menjadi bagian kisahnya. Tapi jangan lupa, dunia hanya bahan untuk menulis Kesejatian Kasih-Nya.”

Itulah perpisahan kita yang pertama, Dik.

Leave a Comment

*