Debar Desember

Apa kabar, debar Desember?

Pertanyaan itu terlintas ketika aku membuka jendela. Sudah empat Desember terlewati, benarkah serpihan kenangan sama sekali tak tersisa? Ah, jika iya, darimana datangnya debar yang selalu mengguncang setiap Desember membuka mata?

Karibku bilang, tiga tahun cukup untuk melupakan seseorang. Entahlah.. Aku tidak yakin. Mungkin dia menambahkan ramuan khusus “pelupa orang” ke dalam makanannya, 3x sehari. Atau barangkali dia menekuni “terapi hati” di klinik ternama, yang biaya konsulnya saja puluhan juta. Lha, aku?

Hanya bisa menikmati tiap percikan memori yang menggelayut. Sembari berharap, suatu saat ia akan berlubang dan hancur seperti batu yang terhujani tiap waktu. Tapi ini sudah setahun lebih lama dari resepnya. Masalahnya masih sama: kian deras hujan mengguyur, kian keras Desember berdebar.

Seperti sekarang, pandangku menerawang gerimis yang meninabobokan Mentari. Nun jauh, beratus kilo meter dari jendelaku, empat kali Desember lalu..

Aku masih sangat cupu kala itu. Sama seperti ratusan karyawan lain yang baru saja resmi bergabung dengan perusahaan ini. Belum banyak yang kupikirkan (dan kupertanyakan), sebatas tahu diri dan berusaha beradaptasi. Meski diam-diam pengamatanku menyusupi sebalik mata manusia-manusia, yang mulai kuhafal namanya.

Hei, lekas kembali ke lapangan. Mentoring sudah dimulai” teriak Kepala Unit berkacamata tebal -yang terkesan selalu serius dan banyak pikiran. Kubalas senyum dengan jari tangan terangkat: jempol telunjuk membentuk “O”, 3 jari terakhir berdiri, lantang kuucap “Siap, Pak.”

Kupercepat langkah. Setengah berlari. Huhft.. Outbound ini, belum satu hari sudah terasa agak menyiksa. Bagus memang, mengenalkan dan mengakrabkan perusahaan dengan semua karyawan. Tapi dipikir-dipikir.. sepertinya lebih mirip ospek mahasiswa baru di kampus.

Sekira 3 langkah sebelum sampai lingkaran timku, “Oh my God!”, jantungku serasa berhenti. Pyarrr…!! Cup orange juice yang kubeli dengan jarak 500 meter berjalan kaki, belum sempat kuminum sama sekali, terlepas dari genggaman. Begitu saja. Tumpah.

Gemetar tanganku meraba handphone di saku celana. Jempolku tetiba terangkat dari layar, saat menemukan sebuah foto yang tersimpan di galery. Foto seseorang. Yang kulihat, lesung pipi tipis membuat wajah hitam manisnya merona saat tersenyum. “Tampan..” bisikku dalam hati, sama persis dengan mentor yang tengah memberi materi di lingkaran timku itu. Apakah keduanya adalah orang yang sama?

Leave a Comment

*