Dari Street Food Hingga Pujasera

Malam belumlah larut saat langkah kecil saya menyusuri taman paling ramai di The Heroes City. Selain nafsu traveling yang memang belum terpuaskan, saya penasaran dengan street food yang berpusat di Taman Bungkul, taman paling ramai itu. Sembari melepas penat setelah bertugas di The Sister City of Singapura ini, mata terus mengamati tiap tenda yang berjajar. Tapi, hey! Tunggu!

Tisu dan sampah bekas makanan berserak dimana-mana. Cucian piring hanya satu atau dua ember air. Beberapa makanan beralas nampan tanpa tutup. Tanah pijakan basah beraroma sisa hujan. Minyak di penggorengan kental menghitam. Saus dan kecap tersaji dalam botol plastik tanpa diketahui merk dan komposisinya. Begitu pun makanan yang tersaji, tak ada yang menjamin itu higienis secara klinis.

Meski begitu, tua-muda bahkan anak-anak, tampak enjoy dan lahap. Seolah tak ada masalah dengan makanan itu. Mereka menikmati tiap suapan. Sesekali riuh pengamen berkeliling, agaknya juga tak mengganggu. Satu dua pasang sedang mengepul asap rokok, sembari berbincang. Memang jarang yang terlihat duduk sendiri, paling tidak dua hingga seluruh anggota keluarga ikut serta. Sementara penjual masih sibuk melayani, tukang parkir sibuk menata kendaraan beroda dua hingga empat. Dan, saya?

Berhenti sejenak, berpikir. Jika street food ala kota yang sudah 7 kali memenangkan piala Adipura, dianggap kota terbersih dan ternyaman bagi wisatawan saja masih memprihatinkan, bagaimana dengan kota lain? Pantas jika Bandung -tempat saya tinggal- justru lebih parah dari ini. Bukan bermaksud membandingkan. Tapi ini perlu mendapat perhatian lebih, baik pemerintah, para pedagang maupun masyarakat sebagai konsumen. Karena street food itu bagian dari pemenuh kebutuhan pokok, street food itu berperan besar dalam roda perekonomian bangsa, street food itu budaya, street food juga salah satu alasan turis asing merindukan Indonesia.

Jadi, tenda street food mana yang akan saya cicipi?

Kekuatan Street Food

Langkah saya terhenti di sebuah tenda penjual nasi Rawon. Sesak. Tanpa basa-basi, saya memesan satu porsi dan memilih satu meja paling pojok.

œIni salah satu penjual nasi Rawon paling enak dibanding penjual lain di jalanan. celethuk pengunjung lain yang duduk persis di sebelah saya.

Ya, enak. Siapa pun pasti menyukai makanan enak lagi lezat. Maka segala jenis makanan yang memiliki rasa enak ini kerap diburu. Rasa inilah, bagi sebagian orang termasuk saya, yang menjadi perhatian utama. Boleh dikata, semahal apa pun asal enak, tak masalah. Sebaliknya, semurah apa pun kalau kurang enak, biasanya sepi peminat. Dan rasa enak yang telah teruji oleh orang disamping saya itu, barangkali juga dirasakan pengunjung lain. Tak heran tenda ini terlihat paling ramai dibanding tenda lain.

Dari gadget yang digenggam, saya terka orang di samping ini kalangan menengah ke atas. Kunci mobil keluaran terbaru yang tergeletak pun kiat menguatkan. Bisa beli mobil, berarti orang berkelas dong, bathin saya.

Kembali berpikir, penikmat street food rupaya merambah semua kalangan. Dari backpacker macam saya ini, hingga turis asing yang beruang. Dari buruh yang tak berkendara, hingga pemilik roda empat seperti di samping saya. Semua duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Sama-sama menikmati sajian sekelas œkaki lima. Bahkan masih lekat dalam ingatan saat media mengekspos petikan pernyataan Obama yang menyanjung kelezatan Nasi Goreng.

œHarganya juga murah. Dibanding restaurant, beuuuh! Jauuuh!œ, ekspresif sekali. Dia melanjutkan berceloteh. Tampaknya datang bersama istri, mereka mengangguk-angguk serius.

Memang, harga street food itu sangat terjangkau bila dibandingkan tempat makan sekelas restaurant, caf©, dan sejenisnya. Harga ini pula yang menjadi pertimbangan para pembeli. Kalau ada œrasa bintang lima dengan harga kaki lima kenapa harus mencari œrasa bintang lima dengan harga bintang lima?. Maka tak heran street food dicintai semua kalangan.

Selain murah, street food juga mudah didapat. Tak hanya Surabaya ini, Bandung, Jakarta, Makasar, Aceh, bahkan di luar negeri pun bertebaran street food. Ada pula yang terkelompokkan berdasar jenis makanan atau waktu berjualan. Misal, mau mencari bubur ayam untuk sarapan ada di daerah X. Sementara nasi Rawon untuk makan malam ada di daerah Y. Beberapa kota juga memiliki tempat khusus untuk menyatukan street food ini. Pujasera (pusat jajanan serba ada) namanya.

Keberadaan street food yang bertebaran ini akhirnya membudaya. Teringat ucapan pakar kuliner, Bondan Winarmo, yang saya baca di tempo.co.id (15/3/13). œJajanan kaki lima itu budaya kata Bondan. Nasi Jinggo Bali, Cotto Makasar, Batagor Bandung, Sate Madura, Pecel Madiun, Gudeg Jogja, dan sederet makanan khas daerah lain itu tersedia di pinggir jalan. Bahkan tak harus ke Madura untuk menikmati sate, street food di masing-masing kota itu menyediakan aneka makanan khas daerah lain.

Pantas jika Bondan mengatakan, sekitar 85 persen makanan di dunia tersedia di jalanan. Khusus di Indonesia saja, ada lebih dari 50 persen pedagang kecil menjual makanan. Pada saat ini diperkirakan ada 45 juta pedagang kecil. Dengan angka estimasi 20 juta pedagang saja, sudah dapat menggerakkan putaran ekonomi dari hulu ke hilir. Jika bisnis street food ini terus digalakkan, bukan tidak mungkin pengangguran bisa teratasi, paling tidak terkurangi.

Kelemahan Street Food

Aha! Pesanan saya tiba. Saatnya mencicipi nasi Rawon yang konon salah satu makanan khas Surabaya. Hmm.. Yummy!

œTapi sayangnya pemerintah kurang memperhatikan keberadaan street food macam ini nah lho. Orang itu seperti tahu apa yang saya pikirkan. Sembari menikmati nasi bertabur bumbu kluwek ini, sebenarnya saya tetap menyimak obrolan di samping.

Benar. Pemerintah memang belum sepenuhnya memperhatikan nasib para pedagang kaki lima . Tidak kurang media memberitakan penggusuran pedagang kaki lima. Alasan mengganggu ketertiban, menyita bahu jalan, berada di tanah milik pemerintah, dan sederet lagu lama yang memuakkan. Padahal ujung-ujungnya lokasi tersebut mau dibangun mall atau resort lainnya.

Meski begitu, pemerintah sudah ambil bagian dalam hal regulasi. Yang perlu menjadi catatan: pemerintah seharusnya mengayomi, membina, memfailitasi.

œMakannya itu mereka jadi kurang tertata, pria itu melanjutkan. Potongan-potongan argumennya seolah menuntun saya untuk melengkapi dan menjelaskan. Meski hanya tersimpan di benak.

Memang, keberadaan street food ini tampang semrawut. Di Surabaya masih terbilang œmending lha di Bandung? Huhf.. cetar membahana, deh. Hampir tiap 10 langkah sekali itu ada pedagang kaki lima. Memang ini memudahkan akses pembeli, Tapi dampaknya menjadi kurang sedap dipandang.

Terlebih, untuk ukuran jalan yang tidak terlalu lebar seperti Bandung, tentu hal ini menjadi salah satu pemicu kemacetan. Trotoar tak ayal termakan street food. Kondisi ini juga memicu pembeli buang sampah sembarangan. Bisa ke selokan atau sebuang-buangnya saja, karena memang hampir tak ada penjual street food yang menyediakan tong sampah. Sedangkan tempat sampah di jalan itu tidak selalu dekat dengan lokasi penjual.

œSatu lagi, karena dijual di tepi jalan, jadi kurang bersih. Sambil mengelap tangan dengan tisu, ia beranjak dari meja.

Ini salah satu faktor penting lain: kebersihan. Namanya street food, makanan di tepi jalan, jelas terkena debu dan sederet polusi lain. Belum lagi piranti makan yang hanya dicuci dengan satu atau dua ember air. Bahan-bahan masakan yang entah bersih atau tidak. Saus, sambal, dan kecap yang tak jelas merk dan komposisinya. Hal ini tentu membuat higienitas makanan disangsikan. Maka tak heran, beragam penyakit kerap muncul dari makanan jalanan ini.

Pujasera, Alternatif Solusi untuk Street Food Rapi

Sementara ia sudah berlalu, saya masih termenung. Bukan masih lapar, tapi saya butuh solusi untuk menejemen street food ini.

Nah, itu dia. Pujasera. Pusat jajanan serba ada. Semacam lokalisasi wisata kuliner. Akan lebih baik jika pemerintah langsung turun tangan. Membuatkan sebuah tempat yang bisa menampung para penjaja street food. Cukup gedung memanjang dan terkotak-kotak, seperti warung yang menyatu. Di dalamnya memuat dapur, gerobak dagangan, tempat sampah, dan toilet.

Dengan begitu, kebersihan tempat makan dan makanan bisa terjaga. Sampah tidak lagi dibuang sembarangan. Tidak akan mengganggu aktivitas pengguna jalan: tidak membuat macet dan memakan bahu jalan. Tampak lebih rapi dan andil pemerintah terlihat nyata.

Pembangunan pujasera ini bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat. Memang akan menghabiskan dana banyak, tapi tentu bisa disiasati. Misal, penjual dimintai dana sewa tempat sekian ribu per bulan. Asal tidak memberatkan dan tetap bisa menguntungkan kedua belah pihak. Dengan begitu, street food yang beralih ke pujasera ini tetap terjangkau harganya.

Bagaimana menurut Anda?

Leave a Comment

*