Cantik Itu..

Angin, seperti apakah sejatinya cantik itu?

Cantik?

Iya, cantik.

Hm, setahuku kau sangat sensi soal definisi.

Kadang tidak, meski seringnya iya. Tapi benar, Angin, aku ingin tahu pendapatmu tentang cantik.

Baiklah. Asal jawab dulu, ada masalah dengan kata itu?

Tidak. Yang jadi masalah bukan ‘kata’nya, tapi apa dan bagaimana orang berpersepsi tentangnya. Banyak yang bilang, cantik itu relatif. Nyatanya, kerelativan itu justru tidak berguna untuk lebih banyak kalangan.

Maksudmu, kontes kecantikan?

Ah, ya, itu salah satunya.

Lainnya?

Lainnya giliranmu, Angin.

Hm. Sepanjang perjalan hidup Angin, ada satu kesimpulan tentang cantik yang kudapatkan.

Apa itu?

Sejatinya setiap kepala itu memiliki definisi yang berbeda. Barangkali itulah mengapa orang mengatakan ‘cantik itu relatif’. Hanya saja, kontes-kontes kecantikan lah yang kemudian membuat indikator-indikator untuk mengukur tingkat kecantikan.

Indikator itu berwujud kecerdasan, wajah – berat badan – tinggi badan – lingkar dada – lingkar pinggul – dan lingkar-lingkar lainnya, serta bagaimana attitudenya. Mereka dikemas dalam istilah 3B: Brain, Beauty, and Behaviour.

Sayang, saking boomingnya brand 3B sampai banyak orang meminggirkan wanita yang jauh dari indikator tersebut. Padahal ada banyak sekali hal remeh yang, seringkali terlupakan, justru lebih langka lebih sulit dan lebih bermakna ketimbang 3B.

Kau tahu, wanita yang tersihir 3B itu mau tak mau terperosok dalam lubang nista para pembuat brand. Buktikan saja, perstise wanita sarjana pasti lebih tinggi daripada yang hanya lulus SD. Meski alasan pendidikan tak terelakkan, tetap saja sebaris gengsi tak pelak membuntuti.

Begitu pun wanita berkulit putih, berhidung mancung, bergigi rapi, bulu mata mirip boneka India, pipi tirus, dagu mincis, semua serasi dengan bentuk wajah -bulat, oval, panjang, dan kawan-kawannya. Apalagi bila diperhitungkan soal tinggi badan, berat badan, lekuk tubuh, jenjang kaki, lentik jari, dan gaya rambut; beuuh! Pantas saja produk kecantikan selalu laris manis.

Nah, yang terakhir ini -behaviour, mudah sekali dimanipulasi. Namanya sikap, perilaku, attitude kan bisa dibuat, tapi hati manusia hanya dia dan Tuhan yang tahu. Makannya jangan kaget kalau seorang aktris cantik terlibat korupsi pascajadi wakil rakyat. Atau artis wanita yang dibui gegara baku-hantam dengan temannya.

Ah, tak perlu jauh-jauh. Wanita jilbaber keluaran perguruan tinggi negeri, ilmu agamanya mumpuni, parasnya dinilai cantik oleh sebagian orang, eee.. Lha kok berani kurang ajar sama mertua. Di rumah selalu melawan suami tapi sosmed-nya selalu dibikin mesra buat menutupi. Ya, itu contoh saja.

Lalu, hal remeh yang sering terlupakan tadi itu apa, Angin?

Nah, baru mau kulanjutkan. Hal remeh itu, kawan, aku sendiri tidak berani mengatakan itu sebagai definisi cantik. Tapi paling tidak, bila hal remeh saja sudah dilakukan dengan cantik, maka hal besar pun (mungkin) tidak akan keteran.

Misalnya?

Misalnya, cantik itu.. Wanita yang, ketika diajak dinner di luar, selalu mengajak pasangannya cuci tangan, mengelap sendok-piring dan sedotan (di gelas minuman), sebelum mulai makan. Usai makan, ia tumpuk piring kotor di tepi meja, mengelap meja, cuci tangan, dan memakai tisu seperlunya saja. Oya, dia juga tidak sungkan untuk melangkah ke kasir (tentu dengan uang dari lakinya).

Cantik itu.. Wanita yang, setinggi apa pun pendidikan atau kariernya, tetap mau turun ke dapur untuk membuatkan sarapan -atau paling tidak segelas teh hangat di pagi hari. Tetap mau menyiapkan handuk untuk mandi sore suami, lalu memastikan tempat tidur rapi tanpa debu. Bahkan ia tak sungkan untuk memijit suami tanpa diminta.

Cantik itu.. Wanita yang, setiap ada kesempatan, selalu mengutamakan untuk mengunjungi mertua -dengan membawa buah tangan. Bila ternyata ia tinggal serumah atau berdampingan, justru ia syukuri sebagai kesempatan untuk berbakti. Meski namanya mertua, ada yang pengertian, banyak juga yang keterlaluan.

Cantik itu.. Wanita yang, jika sedang berkunjung ke rumah mertua, sama sekali tidak berani berleha ketika mertua masih bejibaku dengan: baju kotor, piring kotor, lantai kotor, sayuran kotor. Selelah apa pun (pascaperjalanan), ia tetap mencoba bantu sebisanya. Minimal, bikin minum sendiri.

Cantik itu.. Wanita yang, meski hanya di rumah tanpa gawean, tidak tertarik untuk melahap hari dengan ngerumpi kanan kiri. Ia asyik bebersih rumah. Selebihnya -daripada diam- ia manfaatkan gemulai tangan untuk menghasilkan. Apa saja: makanan, kerajinan dari limbah kertas-kain-kapas, ternak, hingga membuka toko kecil-kecilan.

Cantik itu.. Wanita yang, tidak pernah iri dengan kepunyaan kawan. Tidak gentar dikritik tajam jika dia memang berjalan dalam kebenaran. Tidak mudah menyerah dengan impian yang terbentur keadaan. Juga, selalu berpikir ‘nanti gimana’ bukan ‘gimana nanti’.

Cantik itu.. Wanita yang, tidak gegabah untuk menikah jika belum punya ‘simpanan’. Memang tak wajib istri menafkahi. Tapi ia akan merasa malu untuk menengadah -tangan di bawah- melulu. Tak mau menjadi manusia piaraan yang hanya diberi makan (oleh suami). Terlebih, menikah bukan perkara ‘apa yang telah direncana’, tapi ‘apa yang tak pernah terduga’.

Cantik itu.. Wanita yang, selelah apa pun, akan tetap memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil atau manula -di bis kota. Mau mendahulukan mereka -di depan loket- meski masa antri sudah mencengkeram kaki. Mau melebihi seribu-dua ribu untuk ongkos becak yang ia naiki. Setidaknya, ia mau mengajak ngobrol kawan seperjalanan -tidak asik sendiri dengan gadget di tangan.

Cantik itu.. Wanita yang, memahami sepenuhnya bahwa, mencintai pasangannya berarti membuat pasangannya menjadi dirinya sendiri. Karenanya ia selalu percaya akan pergaulan pasangan, bukan malah mengekang dan menyempitkan dunia -dengan posesifnya. Meski begitu, curiga sesekali perlu jadi senjata -demi kebaikannya.

Oh, ya, soal paras, ah, siapa tak suka wanita seperti artis papan atas. Tapi cantik itu.. Wanita yang, seperti apa pun roman dan tubuhnya, tetap bersyukur dan tawadhu. Ia paham benar bahwa, Sang Pencipta-lah yang paling tahu: wajahnya sepaket dengan bentuk hidung, bola mata, alis, bulu mata, rahang pipi, lebar kening, model dagu, bentuk gigi, jenis rambut, bentuk telinga, dan warna kulitnya.

Dengan begitu ia percaya tak ada yang perlu diubah, apalagi sampai menambal-mengurangi-memalsu. Ia hanya perlu merawat, menjaga, dan senantiasa mensyukuri karunia-Nya.

Cukup, Angin.. Cukup.

Kenapa?

Dadaku mendadak sesak. Malu. Aku masih jauh.. Jauh sekali dari semua paparanmu.

Ahaha.. Satu lagi. Cantik itu.. Juga wanita yang, rendah hati.***

(1) Comment

  • Han
    24/09/2014 at 12:53 am

    Subhanallah.

Leave a Comment

*