Bukan yang..

Malam ini mendadak rindu berceloteh. Bukan hanya karena bosan, tapi juga karena tak seorang pun bisa diajak ngobrol.

Ah, aku berkata seolah celoteh ini pelampiasan terakhir. Padahal baru saja hendak kumohonkan maaf. Maaf untuk postingan yang selalu tertunda hingga sekira dua bulan.

Tapi kali ini aku serius. Rindu berceloteh.

Kau ingat, kapan terakhir aku buka-bukaan soal sakit? Kalau tidak salah, aku masih kelas 1 SMA (MA, tepatnya). Sedikit horor kalau kucerita lagi. Terlebih lembaran catatan dokter di rumah sakit yang selalu menampungku, butiran obat yang harus kuminum saban hari, juga repotnya kawan yang merawat di asrama. Semua masa kelabu itu sejenak membuatku malu, betapa lemahnya aku.

Dan, itu sedang terulang. Dua hari terakhir ini tak ada yang bisa kulakukan kecuali berbaring.

Celoteh ini bukan untuk membuatmu iba. Apalagi mengasihani. Aku hanya ingin kau tak pernah lupa bahwa sehat yang kau nikmati hari ini adalah anugrah tiada tara. Adakah cara terbaik untuk mensyukurinya selain kau menjadi manusia terbaik? Kau pasti tahu manusia terbaik itu manusia yang paling bermanfaat.

Bukan yang sholehnya hanya di sosmed. Bukan yang bertopeng “demi rakyat” tapi hatinya “bangsat”. Bukan menghujat radikal tapi imannya dangkal. Bukan yang haus puji tapi hatinya mati.

Bukan yang.. Sudahlah. Semoga kau sehat selalu, dan terima kasih atas waktumu untuk ocehanku.

Leave a Comment

*