Bertetangga

Akhirnya kita hidup bertetangga. Melihatmu jalan dengan anak istri, tinggal serumah dengan mereka, bercengkrama dan bahagia di dalam ‘istana’, sesekali memang mengiris hati. Kenapa, sering kubertanya, cintaku belum cukup diuji dengan pernikahanmu? Menyaksikan kau mengucap janji suci dengan wanita lain saja lebih dari mengebom hati. Apalagi kita harus bertetangga saban hari?

Aku bukan wanita kuat. Tapi terima kasih, kesempatan bertetangga denganmu itu mengajariku untuk kuat dan lebbbiih kuattt. Mengajariku untuk mengontrol hati saat air mata murka. Menyadarkanku untuk ikhlas melepasmu setelah bertahun-tahun aku terbuai harapan palsu. Juga memaksa kaki terus melangkah, beranjak dari mimpi semu yang menyakitkan.

Aku yakin ada alur lain yang Dia tuliskan untuk mengganti semua kehancuran hati. Aku yakin akan ada bahagia yang membayar semua kulucuan kisah kita. Aku yakin, akan tiba hari aku mendapat jawaban: mengapa aku tidak diijinkan memiliki apa yang kucintai. Aku yakin.

Leave a Comment

*