Banjir Luka

Sungguh, aku mulai benci momen ini. Jangan-jangan kebencian itu sudah bersemayam, kadarnya terus merambati tangga angka, tapi baru kusadari. Saat aliran darah bergidik pasrah. Saat mual memaksa memori muntah. Saat air mata terpaksa tumpah. Saat hati, tak mampu menolak buncah.

Kuyakin kau mengerti. Paham sekali. Kapan hal itu terjadi? Hujan.

Aku tahu kau tak pernah sudi membaca (apalagi membalas) surat-suratku. Kau pun alergi saat aku terus mengoceh soal ini. Meski sekali waktu pernah kau bilang, “ada sebuah pelajaran dan hikmah antara aku, kamu, dan hujan”. Bukan berarti kau, setidaknya, mau mendengar kelakar air langit. Terlebih beraroma basah gosong tanah.

Tapi biarlah. Aku tidak pernah meminta Tuhan menghapus kenangan itu dari ingatanku. Aku juga tak pernah memaksamu menyimpan, ah, jangan menyimpan, tidak membuang terdengar lebih pas, kenangan hujan kita. Aku hanya akan terus merintih (pada-Nya) untuk dikuatkan. Kuat untuk terus berjalan.

Terus berjalan. Mudah sekali mengucapnya. Seolah mataku buta kalau semua jalan sudah banjir luka. Selokan penuh sampah derita. Drainase jalan tak mampu lagi melorongi hujan. Lapisan tanah pun enggan merembesi genangannya. Kemanakah air harus mengalir?

Dan, bagaimana aku bisa berjalan di atas air? Atau jalanan menyembul dari balik air? Atau kutarik saja langkah ke depan tanpa melihat tapak?

Ah, aku ini bagaimana. Air itu luka. Banjir luka. Harusnya kudeteksi dulu: seberapa tinggi banjirnya? Dua setengah meter. Fix, badanku dipastikan tenggelam jika memaksa berjalan. Bahkan tinggiku kurang satu meter kalau ingin sama dengan Si Banjir. Jangan tanya soal kuat tidaknya aku berjalan, toh, volume banjir jelas menang satu putaran.

Tunggu. Hei, aku bisa melewati banjir ini dengan berenang! Aha! Pakai perahu sepertinya lebih aman! Bantuan pelampung juga oke.

Tapi.. Yang kubutuh bukan sekadar bisa berenang. Bukan sekadar perahu yang mampu mendayu. Bukan pelampung biasa yang mengapungkan beban saja. Ingat, ini banjir luka!

Lagi pula, sampai kapan aku mampu berenang? Mendayu? Mengapung?

Tuh, kan. Derajat kebencianku mendadak nanjak! Kenapa dulu kisah kita terukir di Desember? Kenapa harus musim hujan yang menggenangkan kenangan? Kenapa harus hujan yang menjadi magnet perkenalan kita? Kenapa harus hujan juga yang, memenggal romantisme kita?

Tahun-tahun lalu masih tersisa harapan, banjir pasti berhenti di kemarau. Tapi sekarang, saat hujan merajai semua hari, di mana asa harus kugali? Haruskah kuganti semua onderdil hati? Bila pun kuganti, akankah banjir luka tersulap bahagia?

Duhai, Angin, tolong bantu aku menjawabnya.***

Leave a Comment

*