Asmara Di dan Dhra

Tuntas sudah perkawinan Di dan Dhra, bisik Lotus pada Senia.
Justru baru bermula, sahut Senia.
Akhir kobaran Dhra berpagut lelehan tiap lekuk Di, ialah akhir yang bermula.
Jika Di masih menyungging senyum lubuk hati saat Dhra melumat habis tubuhnya,
Maka keduanya baru mencicipi puncak kosmik. Dan itu selangkah sebelum perkawinan.

Lotus ber-hmm panjang, dimana perkawinannya?
Di pelukan-Nya. Senia mendongak ke angkasa.
Bahagiakan mereka?
Pasti.
Bahkan sejak Di terbakar demi Dhra berpijar -sebuah persembahkan untuk kehancuran kegelapan, menjadi luapan cinta nan papa.

Bagaimana dengan kita?, Lotus menunduk. Sembap menghadap.
Tangan Cahaya pasti menuliskan kisah yang adil, Senia menggenggam Lotus.
Di dan Dhra menyatu justru saat keduanya sempurna kasat mata.
Saat bumi tuntas merengkuh terang di selubung kelam.
Tapi suratan untuk kita lain dengan mereka.

Bagaimana?, Lotus kian tak sabar.
Kita akan memulai perkawinan saat keanggunan ini menjadi milik air.

*Teriring doa untuk ia yang bahagia dengan ‘ketiadaannya’.
Bandung, 5/11/14.

Keterangan:
– Lotus lebih dikenal dengan nama bunga Seroja.
– Senia berarti bunga Teratai sederhana, bahasa Vietnam.
– Di berarti lilin, bahasa Aceh.
– Dhra berarti derita, bahasa Sansekerta. Pada puisi di atas disimbolkan sebagai api.

Leave a Comment

*