Obrolan Coklat Panas

Aku punya coklat yang rasanya sedikit lebih sweet dari coklat di piringmu. Kamu mau?

Hi, girl! Kok kamu bisa masuk?

Hm. Pintumu terbuka.

Oalah. Lupa.

Meninggalkan pintu terbuka dan sekarang lagi ngipasin jelly coklat yang baru mendidih sambil diseruput pakai sendok.. What’s going on, honey? Ini kebiasaan teraneh yang cuma bisa aku lihat when you are so crazy!

Yeah. You’re right! Untungnya cuma kamu yang tahu kebiasaan anehku ini.

Mau aku buatin coklat sachet? Dibela-belain jalan ke warung ujung demi ini. Dan sekarang masih harus ngebikinin. Kalau bukan sahabat, pasti aku nggak akan mau. Awas aja kalau kamu nggak mau minum.

Thanks, bunny..

So, what’re you thinking about?

Not really. Cuma sekelebat sensasi dari lendirlendir jelly panas ini.

Ah.. Come on, baby. Just tell me.

Hingga petang menjelang, dapur ini serasa hidup. Piringpiring bercengkrama dengan gelas. Sendok dan garpu beradu di bawah kran, yang menyatu dengan mangkuk dan panci kotor. Juga teflon dan bahan makanan yang sempat kukeluarkan dari freezer, sesekali terbahak di tengah percakapan. Riuh sekali.

Sementara kami, hanya mendengarkan keriuhan mereka dalam kebisuan. Termasuk hangatnya obrolan lelehan jelly coklat panas dan coklat panas yang bersanding di meja ini.

 

*Sumber Foto

Leave a Comment


*