Toples Kaca

Semenjak subuh, hujan tibatiba menyelimuti remangnya mentari. Seakan tahu kalau aku butuh backsound sendu dan hanya rintik hujan yang bisa menyempurnakan alunannya. Aku masih menanti Angin di sudut balkon kamar. Dia memintaku membawa toples kaca terbuka dan berjanji menunjukkan sesuatu.

“Kenapa lama sekali, Angin? Aku hampir menggigil..”, tanpa abaaba, Angin tiba persis di depanku.

“Maaf, tadi aku harus menggeser mendung dulu ke atas rumahmu.”, seperti biasa, dia duduk manis tanpa diminta.

“Kenapa harus….”

“Karena kamu membutuhkannya. Untuk menemani air mata yang mungkin sebentar lagi jatuh.”, Angin menatap lekat.

“Mmmmaaksud..”

“Sudah siap?”, dia memang selalu pandai memangkas kalimatku.

“Eum, oke. Siap.”

“Dengar. Aku menunjukkan ini karena kamu memaksaku melakukannya. Jadi jangan ada penyesalan, apalagi memarahiku nanti.”

“Maksa? Kapan aku memaksamu?”

“Tangismu semalam. Itu yang memaksaku. Kamu sudah lupa bagaimana berisiknya tangismu?”

“Tapi.. Aku sama sekali…”

“Memang telinga manusia tidak bisa mendengar, terlalu lirih. Tapi telingaku tidak sama dengan mereka. Sudahlah. Jadi mau kutunjukkan atau…?”

“Iya iya. Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi.”

“Tapi setelah ini mungkin pertanyaanmu membrudul. Sekarang pejamkan matamu dan tahan sejenak. Ini tidak sakit.”

“Sssakit?”

“Kau sudah berjanji tidak akan bertanya lagi. Akan kumulai sekarang.”

Mataku terpejam dan bibirku terkatup. Aku tidak bisa melihat apa yang Angin lakukan. Hanya terasa perlahan tubuhku melemas dan seperti ada sesuatu yang diambil dari dalam. Dikeluarkan semua isinya.

“Kau boleh buka mata sekarang.”

Aku buka pelanpelan. Benarbenar lemas. Kulihat Angin teramat samar. Butuh beberapa detik sampai penglihatanku fokus.

“Ini yang ingin kutunjukkan padamu.”

Aku menatap toples kaca putih terbuka di atas meja. Dan.. Sepertinya..

“Ini….”, aku raguragu mengatakan. Serasa mustahil.

“Iya. Ini isi hatimu.”

“Hhhaa–hhatii???”

“Kadang, manusia terlalu rumit memikirkan sesuatu. Andai saja manusia mau mencoba melihat isi hatinya, semua bisa jadi sederhana. Hidup itu serangkaian pilihan, dari lahir sampai mati. Dan, isi hati menentukan pilihan mana yang harus diambil, mana yang harus ditinggalkan.”

Angin selalu berhasil membuatku kehabisan kata.

“Tangismu semalam tidak akan menyelesaikan apa pun. Aku mencoba menuangkan hatimu ke dalam toples kaca, agar kamu bisa melihat dengan jelas apa isinya. Lalu segera memutuskan pilihan.”

Ah.. Cerdas sekali Angin megirim awan ke atas atap rumahku. Hujan ini seolah menemani air mata yang tak mampu kuseka. Isi hati itu…. Isi hati itu….

“Pukpukpuk…”, Angin memelukku seraya memasukkan lagi seisi toples tadi ke dalam hatiku. Menyisakan satu pilihan.***

Leave a Comment


*