Terjebak

Kepulan asapnya mulai membekas di jendela. Kuletakkan secangkir kopi yang pekatnya melebihi langit pagi ini. Hitam, tanpa tambahan gula sedikit pun. Perlahan ku seruput dengan harapan sejumput. Harapan yang diam-diam selalu menyelinap di aliran darahku. Kukibas-kibas ribuan kali pun, dia tak bergeming.

Sering ku berpikir, haruskah ku putus saja nadi ini agar harapan tak datang lagi?

Hanya jeda satu meter dari tempatku berdiri, tampak salju kembali menyapa. Menutupi atap, halaman, jalanan. Kubuka jendela dan kubiarkan angin menyapu wajah. Ah.. Aroma ini.. Tak pernah tak berhasil memuatku nyaman. Lalu membiusku untuk masuk ke dunia harapan.

Dunia yang semuanya terlihat sama, seperti saat ini. Kopi dan cangkirya, jendelanya, ruangannya, saljunya, semua sama. Hanya saja, ada suara kakimu yang datang lalu memelukku dari belakang. Bayangan di kaca jendela dengan sangat jelas menunjukkan wajah kita di usia 25.

Liciknya, aroma itu tak pernah memberi tahu di mana pintu keluarnya. Aku, mungkin kamu juga, terjebak.

Hingga kini umurku berlipat 3 kali, belum juga kusadari kalau wajah di sebalik punggungku itu bukanlah wajahmu. Ialah wajah wanita lain yang dengan sangat sabar merawatku, meski tahu hati ini tak kan pernah bisa ia sentuh.

Leave a Comment


*