Satu Jam

Tak pernah ku bisa ketemu kamu lagi
Tak pernah ku bisa bersama kamu lagi
Kamu hilang begitu saja, tanpa satu kata pun, kamu hilang..

Aku mengingat semua hal tentang kita
Aku mengingat semua hal yang kau lupa
Tentang perjuangan kita, tanpa satu pun dapat ku lupakan..

Kamu tahu hatiku rapuh
Dan hancur bila tanpamu

Satu hari yang ku pinta
Hari terakhir bersamamu
Menikmati tuk mengenangnya
Mengenang cintamu padaku

Sayang.. Tak banyak pintaku..
Hanya satu hari*
Tetiba ku tertegun. Tak ingin panjang menuliskan lirik lagu yang lewat begitu saja di ruang dengar. Tapi diperhatikan, setiap barisnya tak terpisahkan. Saling terkait dan terikat.

Agaknya, mirip kisah kita. Yang perlahan lapuk tertindih kenangan baru. Sayangnya entah mengapa semua ceritanya justru mengerak di memori. Seolah enggan pergi (atau memang ingin tetap tinggal?).

Perlahan ia ikut merambat dalam urat nadi. Menjalar dari lubuk hati, menjelma alfabet yang teracik di kertasku. Bahkan jika aku menghentikan pena, dia menusuknusuk jiwa, merontaronta.

Dan kalimat yang kumengerti dari jeritannya: andai bisa kuulang waktu, ingin kuperbaiki satu jam terakhir bersamamu, “kala itu”. Hanya satu jam.

Tahukah, semua lembaran yang kau baca di sini, tak lain ialah tentang kita yang tak terlupa.

*Lirik lagu “Hanya Satu Hari” by Sunday People Project

Leave a Comment


*