Dua Es Krim di Ujung Senja

Dear, my cheerful honey..

Berkalikali kubenturkan kepala ke kasur yang bersandar di dinding. Bukan karena tak tahu harus berkata apa. Tapi justru saking banyaknya kata, hingga memaksa jemari ini menari dengan amat pelan, sampai hati benar-benar siap. Melepasmu.

Ah, melepasmu.. kudapati mataku sembab..

Saat membaca surat ini, mungkin kau sudah tiba di Negeri Sakura. Atau masih menunggu di bandara bersama kawankawan. Kusemogakan apa pun yang kau lakukan sekarang, semua berjalan lancar.

Sengaja kutulis surat ini di hari terakhir perjumpaan kita, terhitung H-4 sebelum keberangkatan, dan kukirim di hari keberangkatanmu. Semoga itu hanya hari terakhir menuju 3 tahun ke depan. Bukan untuk selamanya. Sekali lagi kuyakinkan diri, hanya 3 tahun. Berjanjilah jika aku akan menjadi orang pertama yang kau temui saat kembali ke Indonesia nanti.

Jujur aku tak punya kalimat terbaik untuk meminta maaf. Aku tak bisa menemanimu dan melihatmu terbang. Benar memang jika posisiku tak memungkinkan untuk melakukan itu. Aku masih punya kewajiban yang tak bisa ditinggal atau digantikan. Kau tahu itu dan sangat mafhum. Tapi lebih dari itu, sungguh aku tak mampu melambaikan tangan di detikdetik terakhir kepergianmu. Aku benarbenar tak ingin kehilangan sahabat terbaik.

Di titik ini, mungkin kau sedang menertawakanku sembari bersorak: lebay!

Tak apa. Aku suka.

Masih ingatkah kau, bagaimana awal mula kita dipertemukan, berteman, dan menjadi sahabat hingga sekarang? Aku tak begitu ingat. Yang kutahu, 5 tahun lalu kita ditakdirkan berjumpa dalam kelas yang sama. Kau duduk dengan orang lain, begitu pun aku. Belum ada kedekatan, sebatas tahu kalau kita bertemu hampir setiap hari.

Keriangan itu membuatmu disukai semua orang. Tentu aku tak heran saat kau bergabung dalam, katakanlah lingkaran pertemanan, ce-es-an, dengan 4 kawan lainnya. Kau selalu tampak ceria dan kompak bersama mereka.

Sementara aku, hm.. Aku tipe orang yang seringkali dianggap meresahkan (atau menyusahkan?) orang lain. Makannya sejak kecil aku tak punya banyak teman dekat. Malah lebih sering sendiri. Bukan karena tak ingin berteman, tapi entah kenapa keberadaanku dinilai menjadi ancaman. Padahal yang kulakukan hanyalah memenuhi kewajiban sebagai pelajar (dan mahasiswa): rajin belajar, semangat mengerjakan tugas, kritis bertanya, dekat dengan guru dan dosen. Agaknya, semua yang kulakukan itu tampak “terlalu”. Terlalu rajin belajar, terlalu..

Sudahlah, jangan diteruskan. Nyatanya semua kerja keras itu tak berhasil membuatku lulus lebih dulu atau minimal bersamaan denganmu. Malah aku terhitung lebih sering terlambat, bolos, ikut susulan ujian, dan lulus lebih akhir dibanding teman lain. Aku juga heran kenapa aku begitu mudah dianggap menjadi musuh dan dibenci orang lain.

Hingga entah bagaimana ceritanya, kita tibatiba dekat. Menjadi sahabat.

Kau bisa menerima semua kekuranganku, dan seakan aku memberi kenyamanan dalam setiap liku hari yang kita lewati. Sepertinya, kita berjodoh.

“Tinggal PRD! Huhft.. Capeeeek..“, tibatiba kau mengagetkan dari pintu kamarku. Kukira hari ini kau datang siang –begitu katamu saat mengabari subuh tadi, ternyata sejak pagi kau sudah berlari mengejar tandatangan untuk mengambil ijazah.

Omegat! Kamu belum mandi???”, aku terperanjat saat melihat kusamnya wajahmu dan derasnya keringat yang mengucur.. Ouch..

“Belooom.. Kagak sempet.”, sambil membuka jaket, kerudung, sepatu, dan menjemur semuanya karena basah keringat, kau terus mengoceh banyak hal. Sempat pula menunjukkan bekal sarapan yang belum kau makan (atau memang sengaja biar kita makan berdua? Ah.. Kau selalu tahu kalau aku pun belum sarapan).

Kau pun bergegas mandi. Aku masih terpaku pada surat ini.

Tak terasa sudah panjang. Tapi aku masih ingin menulisnya. Menulis sisasisa ingatan tentang kemesraan, bukan, kekonyolan kita.

Kemarin, kau datang lebih awal dari hari ini. Aku masih berselimut. Tak banyak bercakap, kau buruburu ke kampus dengan menenteng 5 skripsi yang jika ditotal kurang lebih ada 1000 halaman. Tentu saja kau datang untuk meminta doa. Semangat 45 membara, momentum jadwal Sidang Skripsi kali ini memberi harapan penuh untuk hunting tandatangan penguji, pembimbing, juga majelis dan pihak jurusan —yang kau tunda setahun. Sayang, kau tetap harus kembali hari ini untuk melengkapi yang tak ditemui kemarin.

Di sela waktu menunggu, kau balik dua kali ke tempatku. Kita menghabiskan siang dengan cengkrama yang tak pernah ingin kulupa. Sembari asik menyiapkan sarapan (yang kesiangan), kita ngerumpi sekenanya. Segala hal dibahas.

Tentang sidang terbuka yang menghebohkan mahasiswa hari itu, lantaran baru pertama digelar. Dua kawan seangkatan kita sedang berdebardebar di sana. Tanganmu masih sambil mengupas bawang. Lama sekali. Meski kuakui hasilnya sangat rapi. Tapi tampaknya kau harus lebih sering memasak agar lebih cekatan.

Dulu aku juga begitu. Sampai ibuku menyindir: kalau kamu masaknya lelet begini, nanti suamimu sudah mau berangkat kerja, masakanmu belum matang. Nah! Dari situ aku membiasakan diri lebih gesit mengupas bawang. 🙂

Juga tentang nyinyiran kita pada salah satu penyanyi pria bersuara “menyekmenyek”. Selera kita sama. Samasama tak suka suara menyek, apalagi pria. Setiap lagunya diputar di radio, buruburu kamu ganti channel —sekalipun tangan belepotan memotong tomat. Oya, penyanyi pria ini juga punya kembaran. Wanita. Suaranya persis, “menyekmenyek”. Dan, kita juga ogah mendengarnya.

Bahkan obrolan makin heboh saat kita sampai pada cerita pernikahan dini yang mengguncang jagad sosmed, beberapa pekan lalu. Kita beradu argumen. Lebih tepatnya kita memiliki pandangan sama dan mempertanyakan argumen orang lain yang malah fanatik sekali dengan nikah muda. “Selama ini orang selalu tanyanya tuh kapan nikah, kapan dihalalin. Tapi nggak mendorong buat nyari ilmu yang maksimal dulu sebelum jadi ibu buat anakanak nanti.”, komenmu semangat.

“Bener. Setuju. Emang sih yang namanya berkeluarga sambil tetap berpendidikan itu nggak mustahil. Tapi berat. Berat buat wanitanya. Bayangin aja, wanita kalau udah punya anak, pasti nggak akan fokus berkarya apalagi belajar sampai anakanaknya minimal selesai usia balita. Apalagi balita itu masamasa emas buat pertumbuhan otak anak.”, sahutku.

“Dan parahnya mediamedia sekarang tu kebanyakan ikutikutan fanatik ngedorong akhwat ikhwan buat cepetcepet nikah. Pakai kalimat sok bijak yang mengatasnamakan agama lah, menghindari maksiat lah, dll. Bener sih, itu sama sekali nggak salah. Tapi nikah itu nggak segampang yang dibayangin..”, kau menimpali lagi.

Kamar ini sepertinya mendadak jadi lebih heboh dari ruang sidang. Segala masa lalu kita yang tersandung perihnya asmara pun menarinari di depan mata. Serasa menyinyir: “Tetap saja, orang yang berani nikah muda itu punya tekad luar biasa”. Kita diamdiam mengakui itu dan mengaku kalah. 😀

Hingga waktu Asar tiba, kita larut dalam perbincangan. Saatnya kau kembali ke kampus untuk mengejar beberapa dosen lagi.

Sama seperti hari ini.

Usai kau mandi, kita bergegas sarapan. Dengan bekal yang kau bawa. Celoteh kembali dimulai. Aku menceritakan seisi novel yang kau pinjami untuk durasi 3 tahun, Trilogi Soekram. Dasar kau tak suka sastra, berkalikali kau baca novel itu, tetap saja tak paham. Untung kau pinjamkan buku itu pada orang yang tepat. 🙂

Tadi malam, kulahap habis semua halamannya dan kuceritakan isinya selama sarapan. Sesekali kita terkikik, gemas, kesal, dan kecewa dengan alurnya. Persis seperti bagian pertama kisah Soekram yang menuntut kelanjutan hidupnya saat pengarang tibatiba mati. Karya penyair Sapardi Djoko Damono itu berhasil membuat pagi kita lebih hangat meski langit terlihat agak mendung.

Sampai siang menyapa, kau bersiap ke kampus lagi. Proses perburuan jodoh, upz, ijazah, belum usai.

Singkat cerita, tak lama kemudian kau berkabar. “Mission complete! Ijazah sudah di tangan”. Kubalas sorak gembira, “Horeeeee”. Lekas kutemui kau yang duduk tak jauh dari kampus. Kita merayakannya dengan dua es krim sederhana. Hingga senja menjelang..

Selama menikmati es krim itu otakku penuh penyesalan. Aku belum sempat mengajarimu membuat tahu telor sarang burung. Kita sesama pecinta kereta tapi tak pernah naik kereta bersama. Ada janji traveling yang batal berkalikali. Aku belum pernah mengunjungi balik rumah dan kamarmu. Bahkan keinginan untuk bisa mengantarmu sampai Soeta pun, tak kesampaian.

Tibatiba aku memikirkan lebih banyak penyesalan. Andai kau jadi menikah kala itu, mungkin perjalanan panjang ke Jepang ini tak kan terjadi. Andai kau tak bersahabat denganku, mungkin pula nasib sial perihal kisah cintaku tak kan menular padamu. Andai..

Tapi lekas kusadari kalau sesal tak megubah apa pun. Aku selalu percaya, ada rencana yang lebih indah setelah pipi kita basah. Dan aku tak pernah berhenti mendoakan yang terbaik untukmu.

Huhft.. Masih terlalu banyak cerita tentang kita yang ingin kuurai. Segera berkabar jika kau punya waktu. Kau harus mendengar bagian akhir kisah Soekram yang dipertemukan dengan Ken Arok dan Ken Dedes. Aku pun sangat penasaran seperti apa rasa Natto —urutan pertama dari sekian banyak makanan Jepang yang ingin kau cicipi.

Tetap tersenyum, Dear.. Doakan aku agar bisa segera naik kereta cepat di Negeri Sakura, bersamamu.

With Love,
Your Angle.

Leave a Comment


*