Untuk Dia

Di suatu hari tanpa sengaja, kita bertemu
Aku yang pernah terluka
Kembali mengenal cinta

Aku masih tersipu jika mengingat semua perjumpaan kita —yang justru selalu tanpa rencana. Kerlingan mataku lamatlamat menelusuri rambutmu, matamu, hidungmu, jenggot tipismu, juga tulang pipi yang tampak menggemaskan kala bibirmu membentuk bulan sabit.

Hati ini kembali temukan
Senyum yang hiang
Semua itu karena dia

Mungkinkah kau terlalu menunjukkan apa yang tampak dan mudah dinilai orang lain? Sedang jauh di dalam sana, kau menyimpan misteri dan obsesi yang tak seorang pun mampu menerka. Termasuk misteri luka dan cintamu terhadapku —yang kian hari kian terperi.

Oh Tuhan, ku cinta dia
Ku sayang dia
Rindu dia
Inginkan dia

Paham. Aku sangat mengerti. Agaknya kalimat terakhir tadi terlalu berlebihan. Barangkali, yang mengonyak hatimu hingga kau rela mempertaruhkan segalanya, bukan aku. Yang kau percaya untuk mendengar cerita, keluh kesah, dan mengusap air mata, juga bukan aku. Bahkan yang tersisa dari semua perjumpaan kita, sejatinya.. hanya perpisahan.

Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Tapi dua usapan di kepalaku yang lakukan itu, entah kenapa berkata lain. Begitu lembut, juga tak berdaya. Lembut berarti kau lakukan itu dengan hati, penuh kasih. Lembut yang membisiki betapa rasa sayangmu padaku samasekali tak berkurang. Saking lembutnya, hingga ketidakberdayaan hampir samar dan sulit kuraba. Baru di sentuhan kedua, aku tahu kenyataan tetap itu ada.

Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari
Ku jatuh cinta padanya

Kenyataan bahwa kau tak berdaya untuk melanjutkan, dan lebih tak berdaya untuk mengakhiri. Akankah kau nyenyak di tidurmu sedang kenyataan itu menggerogoti hatimu? Benarkah kau benarbenar bahagia di tengah segala yang kau punya, jika ada kepingan yang hilang dari jiwamu?

Dicintai oleh dia, ku merasa sempurna
Semua itu karena dia

Huhft.. Sejujurnya pertanyaan itu juga kutujukan untuk diriku. Malah, saat kau mendengar ini, mungkin jawabanmu hanya satu kata: dusta.

Oh tuhan kucinta dia
Ku sayang dia
Rindu dia
Inginkan dia

Sementara aku masih lebih setia dengan harga diriku. Karena hanya itu yang kupunya. Hanya itu yang membuatku berharga dan layak diperjuangkan.

Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Seperti pesan angin yang mengibas kerudungku, ketika tiba saatnya kita saling melambaikan tangan. “If someone seriously wants to be part of your life, they will seriously make an effort to be in it. No Reasons. No Excuses.

Oh tuhan ku cinta dia
Ku sayang dia
Rindu dia
Inginkan dia

Utuhkanlah rasa di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia

Hanya padanya
Untuk dia
*Tulisan ini meminjam lagu DIA by Anji. Dua tahun lalu, aku berkesempatan menjadi MC acaranya, juga berbincang dalam live talkshow radio, tentang warnawarni perjuangan hidup dan karyakaryanya yang penuh cinta. Termasuk cinta yang lara.

Leave a Comment


*