Tiga Malaikat (2)

“Panjang nggak apa-apa. Aku mau dengar. Gimana ceritanya?”

Kau mengusap keringat di selasela rambut yang sedikit menjuntai ke kening. Seakan sembari menyiapkan hati, untuk tidak menitikkan air mata. Beberapa saat.. terdiam.

Sayangnya musik kencang berdebam dan keriuhan pengunjung foodcourt weekend ini tak begitu ramah untuk bercerita. Maklum saja, aku dan dia samasama bukan penganut highclass café-holic bernuansa melankolis –dengan alunan suara emasnya Bruno Mars. Di keramaian macam ini saja, nuansa meja kami terasa terpental jauh….

Seperti berada di depan perapian salah satu posko pendakian, tengah malam. Kami duduk bersebelahan di pintu tenda pramuka yang berdiri kokoh. Jangan bayangkan kami sedang berjambore ria. Memang hanya tenda pramuka yang kami punya, tak ada tenda mewah khusus naik gunung. Backsound yang menemani cengkrama semacam ini, tentu saja, serangga yang sedang bernyanyi di semak-semak.

“Kecelakaan motor” lama kumenanti, ternyata hanya dua kata yang kau ucap.

“Terus?” tak rela kau berhenti cerita begitu saja, aku mendesak.

“Sudah sangat lama, jaman masih kuliah”

“Iya, gimana ceritanya?”

“Ceritanya, waktu itu di perjalanan menuju ke tempat pengajian, sudah dekat sebenarnya. Tibatiba motor yang kunaiki menabrak seorang bapak paruh baya. Sekitar jam sembilanan malam. Di jalan yang kanan kirinya sawah. Apesnya, aku mbonceng, temanku yang nyupir. Otomatis aku yang terluka agak parah, terseret motor beberapa meter, dan punggung telapak tangan ini menahan badan yang jatuh ke aspal jalan. Makannya membekas sampai sekarang”.

Huhft.. Aku berhasil membuatmu bercerita.

“Sempat panik dan degdegan. Takut si bapak yang tertabrak itu menuntut dan urusannya jadi panjang. Kan jelas-jelas temenku yang salah. Si bapak itu posisinya lagi jalan kaki di tepi kiri, sudah benar kan? Tapi nggak tahu kenapa kok temenku yang nyetir motor ini tibatiba nabrak si bapak.

Untungnya begitu dibawa ke rumah sakit, nggak ada yang parah. Malah dokter ngijinin pulang, nggak perlu rawat inap. Aku juga sama. Lecetlecet di beberapa titik sih. Ya cukup bikin ibu kaget begitu aku sampai rumah. Tapi masih kuat dibonceng motor lebih dari 3 jam. Lokasi pengajiannya memang beda kota.”

“Si bapak tadi jadi nuntut nggak?”

“Nah, itu. Untungnya, nggak. Cuma ada yang aneh.”

“Aneh gimana?”

“Beres dari rumah sakit, malam itu juga si bapak minta dianter pulang. Temanku yang nganter. Anehnya, pas lewat jalan tempat kecelakaan tadi, bapak itu minta turun. Persis di titik kecelakaan. Katanya, dia mau jalan kaki saja sampai rumah. Tapi beberapa saat setelah dia turun dari motor dan jalan kaki, bapak itu sudah nggak ada. Phufff.. Menghilang.”

“Serius???” –bersambung.

Leave a Comment


*