Tiga Malaikat (1)

“Ini kenapa?” tanyaku saat diam-diam memperhatikan punggung telapak tangan kirimu. Persis di tulang jari manis dan jari tengah, kulihat semacam bekas luka. Yang menyimpan cerita.

“Dulu pernah jatuh dari motor..” matamu tetiba menerawang jauh. Ah… sayang sekali aku bukan ahli fiksi yang pandai mengurai kembali serpihan memori. Aku hanya merasa.. Kisahmu memanggil jemariku untuk menulisnya.

Sambil menyeruput tetes terakhir Air Mata Kucing kesukaanmu, “Bekas luka ini salah satu pengingatku tentang seorang sahabat”, pelanpelan kau menahan sembab.

“Siapa?”

“Dav”

Menyebut namanya, membuatku mengingat kalau dia salah satu sahabat terbaikmu saat kuliah. Pecinta Psikologi akut yang mulai mengenalmu saat ngampus satu angkatan di Institute Teknik. Tak terhitung berapa kali mbolos dan begadang bareng. Hampir tak ada yang tak kau ceritakan padanya, terutama tentang gadisgadis yang mendapat predikat manis. Saking “kebapakan”-nya si Dav, tak hanya kau yang ditampung curhatnya, tapi semua orang yang dia kenal.

Dia pendengar (sekaligus penasihat) yang amat baik. Juga rendah hati.

Terang saja, persahabatan itu tak kandas meski dia pindah kampus gegara tertinggal jauh dari kawan-kawannya. “Yang lain sudah Studio 4, Dav masih Studio 1”, kenangmu. Bukan karena tak pintar, tapi Dav memang merasa salah jurusan. Terbukti saat dia melabuhkan cintanya pada Psikologi di kampus lain, dalam waktu singkat prestasinya melesat. Bahkan berhasil punya pacar –sesuatu yang absurd kala masih menyandang status mahasiswa bergengsi di Kampus Teknik.

“Dan pacarnya samasama gemuk, makannya kalau naik motor boncengan itu kelihatan lucu..” tawamu seakan sedang membayangkan melihat keduanya boncengan dan melintas di depanmu.

“Terus, apa hubungannya tabrakan itu sama Dav?” tanyaku setelah sadar tentang siapa yang akan kau kisahkan.

“Ceritanya panjang..” jawabmu seraya menunduk dan melipat kertas bill di depanmu. Ciri khasmu, memang. Saat ngobrol, jemarimu seolah tak betah diam dan selalu meremas atau melipat kertas apa pun yang berada tak jauh darimu. Kadang uang kertas pun tak luput dari cengkraman.

Mirip kebiasaanku, tapi punyaku lebih ekstrem. Bukan meremas atau melipat, melainkan menyobek. Dibikin potongan kecil-kecil tak beraturan. Ini juga salah satu cara menghilangkan kebosanan atau mengusir kesedihan, jika tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Tentu saja, aku tak berani menyobek uang.

“Panjang nggak apa-apa. Aku mau dengar. Gimana ceritanya?” –bersambung.

Leave a Comment


*