Sewu Kuto, Solo

Sewu kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh podo rangerteni
Lungamu ning endi

Aku tidak sedang berceloteh tentang kehilangan. Juga tak ingin membahas perihal kerinduan. Tibatiba saja, lidah ini bernyanyi sendiri. “Sewu Kuto”, dipopulerkan Didi Kempot. Tibatiba saja, aku teringat kota anteng, tempat Sang Penyanyi dilahirkan. Surakarta, Solo.

Pirang taun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni

Kubilang anteng, tentu terlepas dari segala berita yang menyertainya beberapa pekan terakhir. Meski baru sekali bermalam di kota itu, sangat kentara jika hawa tenang nan ayem menyelimuti langit Solo. Ketenangan ini, mungkin, yang memberi kekuatan pada Didi Kempot untuk menyajikan Campursari khas Jawa –dengan rendah hati.

Wis tak cobo nglalekake
Jenengmu soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu

Dan penuh keikhlasan.. Hingga hampir semua lagunya melegenda. Termasuk “Sewu Kuto”. Sungguh sarat dengan kerendahan hati dan keikhlasan, baik lirik, rasa, maupun jiwa yang dihadirkan dalam lagu ini. Bahkan video klipnya dibuat amat sederhana.

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu

Sesederhana pesan yang ingin disampaikan Didi (melalui lagu ini). Sebuah curahan hati yang mengisahkan perjuangan untuk menemukan pujaan hati, hingga rela menyusuri seribu kota dan bertanya pada seribu orang. Bertahuntahun. Tapi tak kunjung dipertemukan. Sudah dicoba melupakan, meski sejatinya rasa cinta tak pernah padam. Pasti, dia rela melepas pengorbanan, penantian, dan cinta itu jika memang pujaan hati kini sudah (hidup) bahagia. Hanya saja.. Satu pintanya: ingin sekali saja bisa berjumpa.

Senajan sak kedeping moto
Kambo tombo kangen jroning dodo

Meski hanya sekejap mata, itu cukup mengobati rindu yang selama ini menggelayuti kalbu.

Meski hanya menyanyikan “Sewu Kuto”, cukup bagiku untuk mengobati rindu pada kota itu, Solo.

Leave a Comment


*