Eternal

“Mbak.. Mbak, bersihin kaca doang kok sampai seharian..”, celetuk tetangga di seberang jalan, membuyarkan lamunan. Iya, ya. Aku sama sekali tak menyadari kalau.. Sekitar jam 10 pagi tadi aku sudah berdiri di depan kaca ini, lengkap dengan kain dan cairan pembersih kaca. Sekarang, senja sudah datang.

Aku tak ingat kapan persisnya jendela rumah ini terakhir dibuka (dan dibersihkan). Sepuluh tahun.. Mungkin. Yang jelas, debu yang menempel, sawang yang menggelayut, sarang laba-laba yang tampak beberapa, bahkan bercak kotoran cicak di hampir seluruh sudutnya; membuatku harus membilas kaca ini lebih dari tiga kali. Pun hasilnya tak sebening yang kuharapkan.

Pemiliknya, seorang wanita tua yang harinya dihabiskan untuk mengolah sawah, memang acuh dengan jendela ini. Bukan tak ingin membersihkan atau tak suka membuka jendelanya. Hanya saja, ia kehabisan tenaga untuk mengerjakan. Juga tak punya sisa waktu untuk memikirkan hal itu. Menyapu rumah seminggu sekali pun belum tentu. Mengepel? Setahun sekali, demi menyambut anak-anak tercintanya kembali dari kotakota.

Ia hidup sebatang kara?

Iya. Sepanjangtahun.

Bertahuntahun.

Janganjangan.. Debu yang sedang kubersihkan dari kaca jendela ini, tak lebih tebal dari rindunya wanita tua itu. Tak lebih kesepian dari kesendirian yang dinikmati wanita tua itu, setiap hari.

Bagaimana jika, wanita tua itu adalah ibuku?

Leave a Comment


*