Ritual Pelukan 13 Detik

Kami menyebutnya “Ritual Pelukan 13 Detik”. Hanya berpelukan. Selama 13 detik. Dilakukan tiap dia pulang kerja, begitu dia mengetuk pintu rumah sembari bilang: “Aku pulang..”.

Seketika itu juga aku membuka pintu, tersenyum, membentangkan tangan seraya menyambut: “Welcome home, honey..”. Dan, kami berpelukan. Hangat. Boleh dikata, pelukan ini sakral –untuk kami.

“Maaf, Sayang.. Hari ini aku khilaf.” bisikmu lirih dan lemas. “Aku enggak ada niat bikin kamu marah..”, belum selesai ucapmu, lekas kupotong lembut, “Ssst.. Aku yang salah. Aku yang selalu bikin kamu repot mengurusi requestku. Sudah..sudah. Jangan sebut soal itu lagi. Atau kita masih mau berantem?”

Lekas pelukanmu mengerat, sampai aku susah napas. Itu sekaligus bentuk jawaban yang artinya, “Enggak….”. Hingga kita kembali saling menatap dan berebut untuk berucap: “Makasih, Cinta..”.

Ah, selalu saja lebih dari 13. Bahkan seandainya dia sudah mandi, rasanya tak ingin kulepas.

Kami habiskan permulaan malam di serambi belakang. Sesekali menyeruput teh hangat dan mengunyah buah. Diiringi celoteh tentang semua yang bersemanyam di benak kami seharian. Mulai riuhnya pemberitaan topik headline di tanah air, update info perihal pasang surut pekerjaan, sampai membengkaknya harga tiket untuk flashpacking bulan ini.

Tentu saja, cengkrama itu terjadi setelah dia mandi, ganti baju, dan kami menyantap buka puasa.
Di sela cengkrama aku selalu memanjatkan doa, “Tuhan.. Jangan biarkan kemesraan ini cepat berlalu..”.

Leave a Comment


*