Cengkrama di Bus Antar-Kota

Debu di kaca jendela bus perlahan luntur. Tergantikan bercak gerimis yang turun sesuka hati. Satu bercak, dua bercak…. Tiba-tiba sudah memenuhi kaca seiring bertambahnya kilometer yang terlewati.

Kusandarkan kepala pada jendela. Sembari menghitung mundur.. “Kapan terakhir kita menghabiskan perjalanan di bus yang sama?”, hei, tanyamu seakan menyuarakan isi kepalaku. Syukurlah, kita masih sehati.

“Eum.. Tiga tahun lalu, sepertinya.” kujawab seolah ingat semua perjalanan kita. Padahal, jujur saja, banyak partikel yang hilang. Benar bahwa kita sangat sering berjumpa. Sayangnya hampir tak pernah seperjalanan. Demi menghindari pemborosan waktu, energi, dan biaya, mau tak mau memangkas kesempatan bercengkrama kita.

Ditambah, itinerary selalu mencekik. Perjumpaan yang tak seberapa lama itu terasa kian kejam. Membiarkan kita saling mencuri pandang tanpa sepatah kata pun.

“Di pesawat tadi aku baca sebuah majalah.”, kubuka kebekuan lamunanmu. “Tentang apa?”, sahutmu singkat.

“Traveling. Tapi ada satu rubrik yang bikin aku tertarik baca sampai akhir. Judulnya Rahasia Mengubah Dunia.”, aku menoleh pandang dari luar jendela ke dia. Dan, kudapati wajahnya serius menyimak. Tak berkedip.

Tahukah kau hatiku berdebar saat itu? Bicaraku pun terhenti seketika.

“Gimana rahasianya?”, suara dan tatapanmu itu…. Mematikan. Kubalikkan lagi wajahku menghadap jendela. Satu detik lebih lama saja aku di posisi tadi, meronanya pipiku pasti sangat kentara. Huhft.. Tarik napas..

“Penulisnya bilang, ada 6 topik utama yang paling sering dibincangkan manusia di dunia. Soal perekonomian seperti kenaikan harga di segala lini, dibahas oleh tukang becak di warung kopi sampai presiden dan para menteri. Itu bertengger di nomor satu. Setelahnya ada pembicaraan tentang kemacetan lalu lintas yang juga tak pernah luput dari cibiran.”

“Hm.. Terus nomor 3 sampai 6?”

“Aku tak hafal persis semua judul topiknya. Yang pasti, nomor 1-5 itu obrolan yang berada di luar diri manusia. Satu-satunya topik yang benar-benar berpengaruh terhadap diri manusia ada di nomor 6. Di situ tertulis, misal, tentang intensitas pekerjaan yang kian meningkat. Hal semacam ini paling banyak dibahas oleh dua orang saja, pun sudah saling mengenal laiknya teman dekat. Parahnya, setelah dibahas seringkali tak berujung pada pencarian solusi.

Berhenti di keluhan, ‘pekerjaanku tambah berat’ atau ‘aku makin tak punya waktu untuk mengurus diri sendiri’. Jarang sekali yang memikirkan, ‘karena pekerjaan tambah banyak, gimana caranya biar aku tetap bahagia?’.

Padahal kalau solusi itu ditemukan dan diterapkan oleh masing-masing orang, bayangkan betapa semua raut wajah manusia akan tampak bahagia. Dibanding hanya merutuki dan berujung stress, bukankah lebih baik mencari cara untuk bahagia ditengah himpitan hidup?”.

Persis di kata terakhir itu, aku menoleh. “Ya ampun.. Aku ngoceh panjang lebar malah ditinggal tidur 🙁 “.

“Suaramu seperti musik penghantar tidur. Lanjutin, aku dengar kok. Jadi apa kaitan 6 topik tadi dengan rahasia mengubah dunia?” samar kuintip senyumnya mengembang, tambah menggemaskan saat matanya tertutup.

Tentu saja sigap kujawab, “Banyak manusia berkata dan bercita-cita mengubah dunia, tapi hal-hal yang diurusi seringkali berada di luar dirinya. Padahal, mengubah dunia bermula dari mengubah diri sendiri. Dan, itu ada di topik nomor 6”.

Dug! Kepalanya jatuh ke pundakku. Dia benar-benar tertidur.

Aku hanya bisa melempar senyum ke lampu-lampu jalanan. Perjalanan masih 1 jam lagi.

Leave a Comment


*