Dear,

Mendung setengah hati bermain dengan awan. Pendaran kemilau mentari malu-malu bersembunyi, ingin diajak senda gurau. Sementara hujan? Tampak murung dan galau. Wajahnya mirip manusia kala menanggung rindu yang terjerat waktu.

Itu hasil terawangan mata sayuku, Ngin, saat menulis surat ini. Maafkan tulisanku yang buruk, karena Si Alil ditambah rentetan notifikasi di ponsel tak henti menggelayut. Kuyakini kau mafhum. Buktinya dari sekian banyak manusia yang kukenal dan mengenalku, kau satu (diantara dua) yang sudi meneteskan air mata bersama.

Meski tidak untuk hari ini, mungkin pula seterusnya.

Ah, tak ada alasan khusus atau topik bahasan tertentu yang membuatku tergerak untuk menyapamu. Hanya, tiba-tiba kata-kata mengalir begitu saja, menghampiri jemari dan mengajaknya berdansa. Aku pun tak mengerti, mengapa iringan musik dansa ini justru mengingatkanku padamu. Tentang kau dan aku yang menumpuk janji: makan es krim sambil menertawakan ke-absurd-an skenario kehidupan. Jika sempat, tentu akan jatuh pilihan untuk menghabiskan suara di karaoke dan memanjakan punggung di kursi bioskop. Hingga lelap.

Tapi janji tinggal janji. Kita terlalu serius menghabiskan hari dengan jadwal-jadwal yang.. Kejam. Kadang aku pun lelah bertanya, kemana kebahagiaan kita berlari? Mengapa, dalih dari segala yang kita lakukan itu demi mengejar kebahagiaan, malah berujung rasa sakit berkepanjangan?

Huft.. Sudah-sudah. Hentikan pertanyaan yang tak mengenal jawaban.

Satu hal yang harus kita lakukan saat ini: jangan pernah berhenti bersyukur. Kemalangan kita, Tuhan punya cara-cara ajaib untuk menyulapnya menjadi sesuatu yang berharga. Tanpa perlu berdiskusi dulu. Bukankah, setelah cintamu terbentur nestapa, kau langsung diboyong ke tempat yang kau impi-impikan itu? Dan aku.. Memang belum ada surprize yang megguncang sorak sorai seperti beritamu. Tapi setidaknya, aku sudah diberi kebebasan untuk menyusul.

Masih perlukah kita risau?

Mari saling menggandeng hati, meski tangan tak mampu saling genggam. Karena setiap mimpi, layak untuk kita perjuangkan.*

 

*Kalimat terakhir ini meminjam dari sebuah redaksi iklan.

Leave a Comment


*